Anggaran ini, jelas Eri, merupakan bagian dari strategi pemkot untuk menekan angka pengangguran terbuka hingga kemiskinan di Kota Pahlawan. Seiring berjalannya strategi itu, Pemkot juga baru saja menjalin kerja sama dengan setidaknya 38 pelaku industri Hotel, Restoran, dan Kafe (Horeka) untuk menyerap produk-produk dari perkampungan di Surabaya.
Eri berharap, dana tersebut nantinya dapat digunakan sebagai stimulan untuk membangun unit usaha yang dapat menyuplai kebutuhan Horeka, mulai dari daging ayam, sayuran, hingga sandal hotel.
Dia juga ingin, pemuda khususnya Gen Z mempunyai kemauan untuk belajar menggerakkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk kampung, seperti halnya berwirausaha.
Pemkot bersama stakeholder juga akan melakukan pendampingan untuk para pemuda dan Gen Z yang menerima dana tersebut. Tujuannya, agar program yang dijalankan dapat berjalan secara berkelanjutan ke depannya.
Wali Kota Eri berharap, Kampung Pancasila tidak hanya sekadar program untuk meningkatkan rasa guyub rukun warganya, akan tetapi juga menjadi pusat inkubasi ekonomi kreatif bagi generasi muda di tingkat perkampungan di Surabaya.
Sebab, melalui program tersebut ia menargetkan dapat mengurangi pengangguran terbuka di kalangan anak muda, mengurangi kemiskinan, hingga meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Belajarlah, kita mulai untuk menata agar dia (anak muda) bisa menjadi wiraswasta, bisa menjadi pergerakan kegiatan-kegiatan yang ada manfaatnya untuk kampung. Itu yang saya ingin mulai, jadi biar terbiasa,” tukasnya. (*)





