Persik Kediri Terjebak Keraguan Jelang Hadapi Persis Solo
Keraguan itu bukan sekadar tafsir publik, melainkan tercermin jelas dari pernyataan resmi tim pelatih. Persik memilih bahasa kehati-hatian saat menghadapi Persis Solo, tim yang secara statistik belum menunjukkan performa stabil sepanjang musim ini. Sikap tersebut memperlihatkan persoalan klasik Persik: kegagalan memaksimalkan momentum dan ketidakmampuan tampil dominan di kandang sendiri.
“Kami tahu bahwa mereka tidak berada di posisi yang bagus di klasemen, tetapi pada saat yang sama mereka memiliki pemain yang bagus. Kami tahu pertandingan besok tidak akan mudah,” ujar pelatih Persik Kediri, Marcos Reina, Jumat, 26 Desember 2025.
Pernyataan itu menegaskan satu hal yakni Persik belum sepenuhnya percaya pada kekuatan sendiri. Menghadapi tim papan bawah, yang semestinya menjadi ajang unjuk kualitas dan ketegasan permainan, Persik justru membingkainya sebagai ancaman. Bahasa waspada tersebut menandakan rapuhnya mental bertanding tim, bahkan ketika dukungan publik berada di belakang mereka.
Kondisi ini tak bisa dilepaskan dari performa Ezra Walian dkk, yang tak kunjung stabil. Enam laga terakhir memperlihatkan pola berulang: organisasi permainan yang mudah goyah, lemahnya respons terhadap tekanan lawan, serta kegagalan menjaga ritme permainan. Evaluasi yang diklaim dilakukan setiap pekan belum menjelma menjadi perbaikan nyata di lapangan.
Data pertandingan memperkuat kegamangan itu. Dari enam laga terakhir, Persik hanya sekali menang, dua kali imbang, dan tiga kali kalah. Kekalahan telak 0-3 dari Persita Tangerang pada 21 Desember 2025 menjadi penanda paling gamblang rapuhnya struktur permainan Persik. Sebelumnya, Persik juga tumbang dari Persija Jakarta dan PSIM Yogyakarta, serta gagal mengamankan poin penuh di saat menjamu Persebaya Surabaya dan PSM Makassar yang berakhir seri.
Marcos menyebut kekalahan demi kekalahan itu sebagai bagian dari proses membangun tim. Namun dalih “proses” kian kehilangan relevansi ketika kesalahan yang sama terus berulang tanpa koreksi berarti.
“Kami membangun tim, model permainan yang akan kita mainkan. Itu prioritasnya. Tetapi kami tetap menganalisis Persis Solo,” kata Marcos.
Pernyataan tersebut justru mempertegas kesan bahwa Persik masih sibuk mencari bentuk, alih-alih menghasilkan kepastian performa. Pada level sepak bola profesional, terutama di hadapan publik sendiri, proses tanpa hasil hanya akan memperbesar jarak antara harapan dan kenyataan.
Di sisi berlawanan, Persis Solo datang dengan beban yang lebih ringan. Posisi mereka di papan bawah justru memberi ruang bermain lebih lepas. Pelatih Persis Solo, Milomir Seslija, secara terbuka mengakui kegagalan timnya pada laga sebelumnya dan memilih pendekatan langsung pada solusi.
“Kami sudah tahu apa masalahnya dan kami semua sepakat akan hal itu. Dalam sepak bola, mencari masalah lewat diskusi itu mudah, tapi kami harus menemukan solusi dengan sangat cepat,” ujar Milo.
Sikap lugas Milo kontras dengan narasi defensif Persik. Meski Persis kehilangan sejumlah pemain akibat akumulasi kartu dan suspensi, Milo menolak menjadikannya alasan.
“Ini adalah kesempatan bagi pemain lain untuk menunjukkan kemampuan mereka. Kami tidak akan mencari alasan hanya karena seseorang tidak bisa bermain,” tuturnya.(*)
Posting Komentar untuk "Persik Kediri Terjebak Keraguan Jelang Hadapi Persis Solo"