Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Imam Wihdan Zarkasyi: Semangat Bung Tomo Harus Hidup di Era Digital, Lawan Penjajahan Gaya Baru

KEDIRI (WartaTransparansi.com) – Anggota DPRD Kota Kediri Imam Wihdan Zarkasyi menegaskan bahwa semangat perjuangan Bung Tomo dan para pejuang 10 November 1945 tidak boleh berhenti di buku sejarah. Ia menilai, semangat kepahlawanan itu harus diterjemahkan ulang dalam konteks zaman modern, terutama di tengah arus disrupsi digital yang melanda berbagai sektor kehidupan bangsa.

“Jika dulu Bung Tomo melawan penjajahan bersenjata, maka hari ini kita melawan penjajahan gaya baru yakni penjajahan ekonomi, budaya, dan informasi,” ujar, Senin 10 November 2025.

Menurut politikus Partai Golkar Kota Kediri, tantangan bangsa kini tidak datang dalam bentuk kolonialisme fisik, melainkan hegemoni global yang memengaruhi cara berpikir, selera, dan perilaku masyarakat.

“Kekuasaan hari ini dikendalikan bukan oleh peluru, tapi oleh algoritma dan modal. Generasi muda harus sadar, bahwa ketergantungan pada produk asing dan informasi palsu adalah bentuk penjajahan baru yang sama berbahayanya,” tegasnya.

Imam mengajak generasi muda Indonesia untuk meneladani Bung Tomo dalam semangat keberanian, kemandirian, dan kejujuran moral. Ia menilai, nasionalisme abad ke-21 tidak lagi berarti menolak dunia luar, melainkan mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri.

“Menjadi nasionalis di era digital berarti mencintai produk dalam negeri, berprestasi di tingkat dunia, dan memastikan sumber daya bangsa dikelola untuk kemakmuran rakyat,” katanya.

Ia menekankan, semangat perjuangan di masa kini harus diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Pejuang sekarang bukan lagi mereka yang memanggul senjata, tapi mereka yang menguasai inovasi, sains, dan kreativitas. Inilah bentuk baru dari kepahlawanan modern,” ujarnya.

Dalam refleksinya, Direktur PT Kediri Lebih Makmur (KLM Agro) ini juga menyoroti pentingnya gotong royong sebagai roh perjuangan bangsa. Ia menyebut, Pertempuran Surabaya tidak akan terjadi tanpa solidaritas rakyat.

“Kekuatan bangsa ini bukan terletak pada senjata, tetapi pada semangat kebersamaan. Di era digital, gotong royong bisa diwujudkan melalui kolaborasi sosial, gerakan solidaritas online, dan dukungan terhadap UMKM lokal,” ujarnya.

Imam menilai, semangat Bung Tomo juga berarti keberanian moral untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah godaan kekuasaan dan pragmatisme.

“Korupsi, ketidakadilan, dan apatisme adalah musuh baru bangsa. Melawan penjajahan moral berarti berani jujur, berani adil, dan berani menolak penyalahgunaan kekuasaan,” katanya.

Ia pun mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak berarti berhenti berjuang, melainkan tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata. “Bung Tomo pernah berkata, ‘Merdeka bukan berarti berhenti berjuang, tapi berani bertanggung jawab atas masa depan bangsa sendiri.’ Itu pesan yang abadi dan relevan untuk kita semua,” pungkasnya.

Dalam penutup pesannya, Imam berharap momentum Hari Pahlawan 2025 menjadi pengingat bagi seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga api perjuangan. “Pahlawan sejati tidak hidup di masa lalu, tapi di hati setiap orang yang terus berjuang untuk bangsanya,” ujarnya.

Untuk diketahui pada tahun 2025, Pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 237 tokoh, terdiri atas 219 pria dan 18 wanita. Para pahlawan ini berasal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari Aceh hingga Papua, yang mencerminkan keberagaman etnis, budaya, dan semangat perjuangan dalam membela serta mempersatukan bangsa.

Dalam peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, pemerintah menetapkan 10 tokoh baru sebagai Pahlawan Nasional. Mereka dinilai telah memberikan jasa luar biasa bagi kemerdekaan, persatuan, dan pembangunan bangsa Indonesia.

Berikut daftar 10 Pahlawan Nasional terbaru tahun 2025:
  1. Jenderal Besar Soeharto (Jawa Tengah),
  2. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (Jawa Timur),
  3. Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat),
  4. Sarwo Edhie Wibowo (Jawa Tengah),
  5. Marisnah (Jawa Timur),
  6. Hajjah Rahmah El Yunusiyah (Sumatera Barat),
  7.  Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat),
  8. Syekhona Muhammad Kholil (Jawa Timur)
  9.  Tuan Rondahaim Saragih Garingging (Sumatera Utara),
  10.  Zainal Abidin Syah (Maluku Utara).
Penetapan ini menegaskan bahwa nilai kepahlawanan tidak lekang oleh waktu. Semangat berjuang bagi bangsa kini tidak hanya diwujudkan di medan perang, tetapi juga melalui pengabdian moral, sosial, dan intelektual demi kemajuan Indonesia.(*)

Posting Komentar untuk "Imam Wihdan Zarkasyi: Semangat Bung Tomo Harus Hidup di Era Digital, Lawan Penjajahan Gaya Baru"