Ketika suasana gembira menjadi lebih syahdu dan mengundang decak kagum semua insan manusia, menundukkan kepala seraya mengangkat tangan, itulah doa, sebuah kekuatan dahsyat.
Ketika suasana duka atau tertimpa musibah, maka semua mampu menjadi peredam sekaligus memantik kesadaran emosional dengan tangisan atau gerangan atas ketidakmampuan menerima peristiwa, maka doa menjadi kekuatan menundukkan semua kesombongan, keangkuhan, dan menjadi jalan menuju kesadaran menyerahkan diri semua urusan kepada Ilahi Robbi.
Sebagimana diketahui bahwa fadilah doa mempunyai keutamaan atau kemanfaatan begitu besar. Setiap insan manusia ketika memanjatkan doa ada keyakinan sangat mendalam dengan berdoa kepada Allah SWT semua permohonan akan mampu dipanjatkan dengan harapan dikabulkan.
Tentu saja permohonan dalam berbagai acara kebaikan maka, doa menjadi harapan segera mewujudkan semua kebaikan itu menjadi lebih baik.
Ketika bencana, musibah datau ujian datang, maka doa diharapkan mampu mencegah bala bencana, menumbuhkan ketenangan jiwa, memperkuat hubungan dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, serta menjadikan seseorang lebih tawakal dan bahagia karena melepaskan beban kepada-Nya. Doa juga dapat menyimpan kebaikan untuk kehidupan akhirat atau menghindarkan dari kejelekan di dunia.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran”.(Surat Al Baqarah 186).
Sebagimana ayat di atas bahwa janji Allah SWT akan mengabulkan doa-doa seorang muslim yang tidak mengandung dosa dan permusuhan, entah dikabulkan di dunia, disimpan untuk akhirat, atau dialihkan dengan kejelekan yang setara. Bahkan menjadi pemantik penguatan iman dan pengingat kebenaran.
Doa juga dapat menjadi benteng pertahanan dan perlindungan dari berbagai masalah dan musibah yang datang. Bahkan berdoa dapat memberikan rasa ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman batin, serta memperkuat keimanan dan hubungan spiritual dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).
Ketika seseorang berdoa atau mengikuti doa secara bersama-sama, maka semua tertunduk, semua berserah diri, semua menyatu dalam harapan hanya Allah SWT yang berhak atas semua peristiwa dijagad raya ini.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Ghafir ayat 60: “Dan Tuhanmu berfirman:Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”
Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) bersabda bahwa setiap doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahim, akan dikabulkan dalam bentuk salah satu dari tiga hal; dikabulkan segera, disimpan untuk akhirat, atau dihindarkan dari keburukan yang setara.
Doa selalu saja menjadi magnit pengabdian tertinggi, karena ketika doa dibacakan maka semua kekuatan sudah kembali kepada pemilik Jagad Raya ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan di balik doa itu, 6 Kiai dan Ustad mendoakan akad nikah Fachri M Krisna Adinegara dengan Indira Rachma Pramudita, adalah mengantar kehidupan baru dalam bahtera rumah tangga sangat dahsyat. Semoga “tidak ada keajaiban kecuali dari Allah”.
Para Kiai dan Ustad yang membaca doa, ialah
- KH Ahmad Rofiq Siradj (PP Alhikmah Alhidayah Kedungcangkring Jabon)
- KH M Syihabbudin Sholeh (PP Baha’uddin Al-Ismailiyah Ngelom Sepanjang)
- KH M Munawwir Afda (PPTQ Al-Makky Podokaton Pasuruan)
- KH Ahmad Muhammad Hayaze (PP Al-Islamiyah Kalitengah Tanggulangin)
- KH Abdul Khobir Huda (PP Al-Falah Siwalanpanji Buduran)
- Dr H M Nur Fatichin, dan beberapa doa pada saat penyerahan pasrah untuk dinikahkan. Itulah kekuatan dahsyat doa selalu saja menyandarkan insan manusia bukan siapa-siapa, mengantar kehidupan baru bertabur doa, “*Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in*” (“Hanya kepada-Mulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan”). (ria)