Di tempat terpisah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya, Irvan Wahyudradjad menuturkan bahwa pembangunan infrastruktur jalan bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan integrasi antar wilayah.
“Sedangkan pembangunan sistem drainase, bertujuan untuk penanganan banjir dan genangan. Lalu pembangunan infrastruktur teknologi informasi, bertujuan untuk meningkatkan atau mempermudah akses informasi dan komunikasi jaringan global,” kata Irvan.
Sementara pembangunan RSU Surabaya Selatan, diharapkan akan mendukung pemerataan pelayanan kesehatan di Kota Pahlawan. “Kajian sosio-ekonomi menunjukkan bahwa rumah sakit ini sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat,” paparnya.
Lebih rinci, Irvan menjelaskan bahwa pada tahun 2025, pemkot akan fokus penyelesaian JLLB pada segmen Jalan Raya Sememi-Simpang Susun Romokalisari, termasuk akses ke Gelora Bung Tomo (GBT). Sedangkan untuk Jalan Wiyung, akan ditingkatkan dari pertigaan UNESA hingga Puskesmas Lidah Kulon.
Menurut Irvan, pengembangan sirkuit GBT tidak luput menjadi perhatian Pemkot Surabaya dalam program prioritas pembangunan di tahun 2025. Pengembangan ini meliputi menambah lintasan sepanjang kurang lebih 600 meter, pembangunan tribun hingga paddock.
“Di tahun 2025, pemerintah kota juga akan membangun sekolah baru di Medokan Ayu, Waru Gunung, dan Tambak Wedi. Selain itu, ada juga pembangunan Puskesmas baru di Pegirian,” ungkapnya.
Irvan menambahkan bahwa Pemkot Surabaya telah mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Rp12,3 triliun pada 2025. Dari jumlah tersebut, Rp6,03 triliun atau sekitar 48,85 persen, dialokasikan untuk program prioritas di bidang infrastruktur.
“Pembangunan yang berkelanjutan menjadi prinsip utama kami agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi saat ini dan yang akan datang,” tutup Irvan. (*)





