Yohan mengakui, cawapres memang cenderung lebih sisi non elektoral, seperti bekerja sama, keseimbangan politik, dan variabel proyeksi 2029 memastikan tidak jadi pengganggu. Namun Muhadjir punya daya tarik elektoral dari sisi dia satu-satunyanya tokoh Muhammadiyah.
“Kita tahu sepanjang 10 tahun terakhir representasi Muhammadiyah cenderung terabaikan. Nah, Muhadjir bisa jadi penarik suara dari pemilih Muhammadiyah” tegasnya.
Contoh kasus ditunjukkan Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019 menjadi penguat bahwa sosok cawapres itu non elektoral karena saat itu nama Ma’ruf Amin juga tidak muncul di survei-survei.
Jika Muhammadiyah mengajukan Muhajir Effendy, lanjut alumnus FISIP Universitas Airlangga Surabaya ini, tiga aspek tadi sudah terpenuhi pada sosok Muhadjir. Di situasi yang penuh tarik menarik, Muhajir bisa menjadi alternatif.
“Bahkan jika situasinya buntu, dalam artian capres sulit mendapatkan cawapres yang ideal, sosok tokoh Muhammadiyah tersebut bisa jadi figur potensial,” katanya. (ANO)