Sabtu, 13 April 2024
27 C
Surabaya
More
    OpiniPojok Transparansi“Tsunami Kanjuruhan” (1)

    “Tsunami Kanjuruhan” (1)

    Oleh Joko Tetuko Abd Latif (Pemimpin Redaksi WartaTransparansi.com)

    Peristiwa menyedihkan juga menyayat hati ketika terdengar kabar lebih seratus suporter wafat di stadion kebanggaan Arema FC dan Aremania, Stadion Kanjuruhan seusai laga bergengsi, Sabtu (1 Oktober 2022).

    Antara percaya dan tidak percaya karena pertandingan berjalan aman, lancar, nyaman bahkan tergolong sportif. Sepanjang pertandingan tidak ada kesan saling mencederai, juga tidak ada protes karena keputusan wasit. Semua perjalan lancar dan wajar.

    Genap tujuh hari sudah setelah peristiwa memilukan itu, baru menulis tragedi menguncang dunia persepakbolaan hingga seluruh dunia mengheningkan cipta sebelum pertandingan. Bahkan FIFA mengibarkan bendera setengah tiang.

    Presiden FIFA Gianni Infantino turut memberikan pernyataan soal tragedi Kanjuruhan yang terjadi setelah pertandingan Arema FC versus Persebaya Surabaya yang berakhir dengan kekalahan tuan rumah 2-3, dengan gol sangat bersih walaupun satu gol Arema melalui pinalti.

    “Dunia sepak bola sedang dihebohkan menyusul insiden tragis yang terjadi di Indonesia pada akhir pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan,” ujar Gianni, dikutip dari situs resmi FIFA, Minggu.

    Menurut pria asal Italia itu, tragedi ini merupakan hari yang gelap bagi semua yang terlibat dalam sepak bola dan sebuah tragedi luar biasa dan di luar pemahaman.

    “Saya menyampaikan belasungkawa terdalam saya kepada keluarga dan teman-teman para korban yang kehilangan nyawa setelah insiden tragis ini,” tandasnya.

    “Bersama FIFA dan komunitas sepak bola global, semua pikiran dan doa kami bersama para korban, mereka yang telah menjadi korban terluka, bersama rakyat Republik Indonesia, Konfederasi Sepak Bola Asia, Persatuan Sepak Bola Indonesia, dan Liga Sepak Bola Indonesia, pada masa yang sulit ini,” kata Gianni melanjutkan.

    “Hari Gelap” kata Gianni patut mendapat perhatian semua pihak, bahwa tercatat hingga Sabtu (8 Oktober 2022) 705 orang dinyatakan menjadi korban, dan 131 tercatat wafat. Sementara Arema FC dan Aremania masih membuka Crisis Center mencatat data korban meninggal dunia dan luka berat maupun cedera ringan yang belum terdata didata pemerintah.

    Menjadi anggota Tim Investigasi PSSI dengan Ketua Tim Ahmad Riyadh UB Ph.D, sudah menyatakan bahwa akan menulis berita setelah investigasi sudah hampir selesai dan suasana duka sudah mulai terlupakan.

    Peristiwa sangat menghancurkan dunia sepak bola Indonesia, terutama Aremania dan seluruh suporter Garuda Nusantara, lebih tepat menyebutkan sebagai “Tsunami Kanjuruhan”.

    Mengapa? Tsunami (serapan dari bahasa Jepang yang arti harfiah: “ombak besar di pelabuhan”) adalah gelombang air besar yang diakibatkan oleh gangguan di dasar laut, seperti gempa bumi. Gangguan ini membentuk gelombang yang menyebar ke segala arah dengan kecepatan gelombang mencapai 600–900 km/jam.

    Awalnya gelombang tersebut memiliki amplitudo kecil (umumnya 30–60 cm) sehingga tidak terasa di laut lepas, tetapi amplitudonya membesar saat mendekati pantai. Saat mencapai pantai, tsunami kadang menghantam daratan berupa dinding air raksasa (terutama pada tsunami-tsunami besar), tetapi bentuk yang lebih umum adalah naiknya permukaan air secara tiba-tiba. Kenaikan permukaan air dapat mencapai 15–30 meter, menyebabkan banjir dengan kecepatan arus hingga 90 km/jam, menjangkau beberapa kilometer dari pantai, dan menyebabkan kerusakan dan korban jiwa yang besar.

    Dalam Tim Investigasi salah seorang mantan komandan anti huru-hara “Semanggi 1” dan “Semanggi 2” menyebutkan bahwa prosedur menembakkan gas air mata ada tahapan, termasuk di daerah datar dengan kemungkinan tidak membahayakan karena ada pom bensin atau kendaraan yang rawan terbakar.

    Tetapi ketika ditembakkan di tribun, maka seperti menembakkan di tempat tungku, asap gas air mata akan menjadi gelombang asap serta tersebar di sekitar tribun. Itulah menyebutkan dalam tulisan ini “Tsunami Kanjuruhan” (Gelombang asap mematikan di Kanjuruhan). Dimana dalam waktu tidak kurang 10 menit suporter yang dalam situasi dan kondisi kecewa karena tim kesayangannya kalah, tetapi tetap bersahaja langsung mendapat serangan gelombang gas air mata. Tsunami … oh tsunami, melumpuhkan dan mamatikan suporter di Stadion Kanjuruhan.

    Sekedar diketahui, Tsunami Aceh terjadi tepat pada 16 tahun yang lalu. Tsunami Aceh yang merupakan bencana alam terbesar itu terjadi pada 26 Desember 2004.

    Gelombang tsunami menyapu pesisir Aceh pasca gempa dangkal berkekuatan M 9,3 yang terjadi di dasar Samudera Hindia. Gempa yang terjadi, bahkan disebut ahli sebagai gempa terbesar ke-5 yang pernah ada dalam sejarah.

    Kejadian itu terjadi pada hari Minggu, hari yang semestinya bisa digunakan oleh masyarakat untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati libur akhir pekan bersama. Tapi tidak dengan Minggu saat itu, masyarakat justru harus berhadapan dengan alam yang tengah menunjukkan kekuatannya, sungguh kuat.

    “Tsunami Kanjuruhan” juga terjadi Sabtu malam (2/10/2022) dan korban berjatuhan Minggu dini hari (2/10/2022), seperti terhipnotis dalam permainan sulap, gelombang tsunami asap gas air mata itu seperti mematikan seantero Stadion Kanjuruhan Malang. Semua terguncang dan dunia gelap, sepak bola terlelap dalam duka mendalam. (*)

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan