Rabu, 28 September 2022
29 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiHarga BBM & Semar

    Harga BBM & Semar

    Oleh Djoko Tetuko

    Demo mahasiswa di berbagai tempat memprotes kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), sesunggunya mewakili masyarakat yang masih lemah tidak berdaya setelah setelah berusaha lepas dari masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

    Pemerintah secara resmi mengumumkan kenaikan harga BBM penugasan, subsidi, hingga non subsidi. Penyesuaian harga BBM tersebut berlaku satu jam sejak diumumkannya pada Sabtu (3/9/2022) yakni berlaku sejak pukul 14.30 WIB.
    Adapun ketiga BBM tersebut antara lain yakni Pertalite, Solar subsidi, hingga Pertamax.

    Harga perubahan baru Pertalite naik dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter.
    Solar subsidi naik dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter. Pertamax mengalami kenaikan dari yang sebelumnya Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

    Kenaikan harga BBM sudah dapat dipastikan akan mengubah tarif angkutan umum dan tarif transportasi, juga harga barang kebutuhan pokok. Bahkan mengubah berbagai pola kehidupan di masyarahat termasuk dunia usaha.

    Kenaikan harga BBM pada masa Presiden Soeharto dari Rp 52
    Pada tahun 1980, harga BBM naik menjadi Rp 150, pada tahun 1991 harga BBM Rp550, pada tahun 1993 harga BBM naik mencapai Rp 700, kemudian pada tahun 1998 harga BBM naik sampai Rp 1.200.

    Pada masa kepemimpinan Presiden BJ Habibie, harga BBM turun yang semula Rp 1.200 menjadi Rp 1.000 untuk harga per liternya pada tahun 1998.

    Era kepemimpinan. Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, harga BBM mengalami lonjakan sebanyak empat kali, yakni pada tahun 1998 mulai 1.000, pada tahun 1999 turun menjadi Rp 600, pada tahun 2000 harga kembali naik menjadi Rp 1.150 dan pada tahun 2001 harga BBM menjadi Rp 1.450.

    Pada era Presiden Megawati, harga BBM naik mulai Rp 1.550 pada tahun 2002 dan naik menjadi Rp 1.810 pada tahun 2003.

    Era kepemimpinan
    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaikan dan menurunkan harga BBM sebanyak 3 kali.

    Tahun 2003 yang awalnya harga BBM sekitar Rp 1.810, naik pada tahun 2005 menjadi Rp 2.400 sampai Rp 4.500, hingga di tahun 2008 kenaikan harga BBM mencapai angka Rp 6.000.

    Kemudian pada tahun 2008 terjadi penurunan harga BBM pada bulan November sampai Desember menjadi harga Rp 5000 sampai Rp 5.500. Sampai di tahun 2009, harga BBM kembali turun di angka Rp 4.500. Namun kenaikan harga BBM terjadi lagi pada tahun 2013, di mana pada waktu itu menyentuh angka Rp 6.500.

    Era Presiden Joko Widodo terjadi kenaikan harga premium dan solar pada 2014. Masing-masing menjadi Rp 8.500 untuk premium dan solar menjadi Rp 7.500.

    Kemudian pada Januari 2015 harga premium turun menjadi Rp 7.600, sedangkan solar turun menjadi Rp 7.250. Di bulan yang sama, kembali terjadi penurunan harga BBM, Rp 6.600 untuk premium, dan solar menjadi Rp 6.400.

    Namun, kenaikan harga BBM kembali diumumkan pada bulan Maret, menjadi sekitar Rp 7.300 untuk premium dan Rp 6.900 untuk solar. Pada tahun 2016, terjadi penurunan harga BBM kembali, di mana harga premium menjadi Rp 6.500 dan untuk solar menjadi Rp 5.150.

    Pada 20 Januari 2018, Jokowi menaikkan harga Pertalite menjadi Rp 7.600 per liter. Lalu, pada 24 Maret 2018 harga Pertalite kembali naik menjadi Rp 7.800 per liter.

    Sampailah pada September 2022 terjadi kenaikan BBM yang cukup signifikan. Pertalite naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000 per liter, solar naik dari Rp 5.150 menjadi 6.800 per liter, dan Pertamax naik dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

    Instagram Suryo Prabowo menulis 10 negara yang menjual BBM paling murah di dunia:

    1. Venezuela Rp.330,5 per liter.
    2. Libya Rp.451 per liter
    3. Iran Rp.795 per liter
    4. Algeria Rp.4.873 per liter
    5. Kuwait Rp.5.071 per liter
    6. Agola Rp.5.553 per liter
    7. Turkmenistan Rp.6.373 per liter
    8. Kasakhstan Rp.6.559 per liter
    9. Nigeria Rp.6.699 per liter
    10. Malaysia Rp.6.796 per liter.

    Kenaikan harga BBM pada saat menjelang tuan rumah KTT G-20 dengan harapan seluruh dunia gotong royong untuk saling bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.

    Diketahui, Indonesia pertama kali menjadi Presidensi G20 secara resmi sejak 1 Desember 2021 hingga akhir tahun 2022 pada saat serah terima Presidensi di KTT G20 di Bali.

    Tema G20 Indonesia 2022
    Pada presidensi kali ini, Indonesia mengangkat tema “Recover Together, Recover Stronger.” Melalui tema ini Indonesia mengajak seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.

    Berdasarkan informasi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) pada bulan Maret 2021 lalu, jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 61,07% atau Rp8.573,89 triliun.

    Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Indonesia menjadi kekuatan tersendiri. Sebuah potret kemandirian rakyat dalam mengembangkan berbagai jenis usaha. Hanya saja apakah dengan kenaikan harga BBM sekarang ini masih mampu bertahan atau semakin meningkat. Tentu semua harus berhitung dengan cerdas selama minimal 1 tahun ke depan dengan berbagai indikator sangat mendasar dalam hal kebutuhan pokok (primer dan sekunder) rakyat Indonesia.

    Menghitung peluang pada saat kenaikan harga BBM, yang tidak terlalu lama akan diikuti kebaikan berbagai tarif angkutan maupun harga kebutuhan pokok, maka mencari sosok pemimpin seperti Semar sangatlah tepat.

    Paling tidak “menejemen jenaka” serius tetapi tetap santai atau dalam bahasa sufi “menyerahkan semua peristiwa dunia ini kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”, seraya mencari peluang bertahan sekaligus berkembang dengan kekuatan dari diri sendiri.

    Mengapa harus mencari sosok Semar? Semar adalah Samar (Jawa), kemudian menjadi bahasa Indonesia baku, samar berkembang menjadi memyamar. Menyamar memiliki 5 arti. Menyamar berasal dari kata dasar samar.
    Menyamar adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda.
    Menyamar memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga menyamar dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.

    Diketahui Semar menjadi tokoh wayang yang diciptakan Waliyullah Sunan Kalijaga. Dalam pewayangan, tokoh ini merupakan pemimpin dari para punakawan yang berjiwa adil meski buruk rupa.

    Semar dikenal sebagai tokoh wayang yang luar biasa. Dirinya beserta anak-anaknya yaitu, Gareng, Petruk, dan Bagong dalam setiap lakonnya kerap menyajikan pertunjukan yang menghibur dengan pesan yang bermanfaat.

    “Menejemen Jenaka” pada saat negara dan bangsa dalam keadaan membutuhkan kebersamaan dalam mengatasi berbagai gejolak, pemimpin dengan jiwa kesatria dan menjaga marwah keadilan sangat dibutuhkan. Bahkan sesekali membuat susana terhibur, tidak ada ketegangan.

    Semar mungkin salah satu karakter tertua yang terdapat pada mitologi Indonesia. Karakter ini konon tidak diturunkan dalam mitologi Hindu. Semar menjadi terkenal dalam pertunjukan wayang, terutama wayang kulit di Pulau Jawa dan Bali.

    Bedasarkan buku Psikologi Raos dalam Wayang karya Suwardi Endraswara yang dimuat Republika disebutkan tokoh Semar memberi dimensi baru dan mendalam kepada etika wayang.

    “Keberadaan Semar dan anak-anaknya mengandung suatu relativitasi daripada cita rasa priyayi mengenal kesatrian yang berbudaya, halus lahir batinnya,” tulis Imas Damayanti dalam tulisan Tokoh Sentral Pewayangan Semar dalam Dakwah Sunan Kalijaga.

    Semar yang sering dipanggil Ki Lurah dalam cerita pewayangan disebut sebagai seorang begawan, tetapi dirinya memilih untuk menjadi simbol rakyat jelata. Karena itulah, Semar lebih dijuluki sebagai manusia setengah dewa.

    Sedangkan dari sisi spritual, Semar mewakili watak yang sederhana, tenang, rendah hati, tulus, tidak munafik, tidak pernah terlalu sedih, dan tidak pernah terlalu riang gembira. Karena itulah sosoknya terkenal memiliki mental matang.

    Dia memiliki sifat yang tidak kagetan, dan tidak juga gumunan, layaknya air tenang yang menghanyutkan. Tetapi di balik ketenangan sikapnya, tersimpan kejeniusan, ketajaman batin, kekayaan pengalaman hidup, dan ilmu pengetahuan.

    Semar digambarkan sebagai sosok yang berwatak rembulan, wajahnya yang pucat diekspresikan sebagai pribadi yang tidak mengumbar nafsu. Dia disebut juga sebagai semareka den prayitna semare, yang artinya menidurkan diri.

    Di sini maksud dari menidurkan diri adalah batinnya selalu awas, sedangkan pancaindra selalu ditidurkan dari gejolak api dan nafsu negatif. Dan yang utama, sosok Semar selalu meminta restu kepada Hyang Widhi atau Tuhan.

    Semar juga menyebut bahwa pemimpin adalah seorang majikan sekaligus pelayan. Sehingga dirinya walau manusia setengah dewa tetap menjadi pelayan atau pembantu para kesatria.

    Simbol Semar dengan samar atau menyamar adalah bagian dari perwujudan makhluk dengan wujud manusia di dunia, dengan kemuliaan sesuai dengan ikhtiar dan pendekatan kepada Tuhan. Dan, “Tuhan tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah”.

    Semar dalam potret pewayangan menggambarkan pemimpin semua golongan dengan satria, sopan santun sungkem, syukur dan sabar.

    BBM pada hari ini dengan kenaikan cukup memberatkan , membutuhkan pemimpin dapat “ngemong” (Jawa), dapat memimpin seperti orang tua menjaga anak-anaknya, orang tua menjaga keluarganya. Dan pemimpin dalam memimpin bangsa ini jika seperti orang tua menjaga anak dan keluarga, maka akan langgeng dalam sungkem (sujud) kepada Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Itulah simbol Semar sebagai pemimpin. (*)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan