Kamis, 25 November 2021
28 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiCatatan Gus Hans dari Makkah, "Jabal RAHMA dan Gersangnya KERAMAHAN" (1)

    Catatan Gus Hans dari Makkah, “Jabal RAHMA dan Gersangnya KERAMAHAN” (1)

    Oleh Zahrul Azhar As’ad

    Salah satu “ritual extra” para peziarah ke tanah suci adalah ke jabal Rahma , konon tempat ini lah bertemuanya Adam dan Hawa, yang jelas lokasi ini dikunjungi karena masuk wilayah Arafah yang menjadi keharusan bagi jamaah haji untuk Wukuf di sini karena “haji adalah Arafah”,.

    Ibnu Faris menyebutkan bahwa kata Rahmah yang terdiri dari fonem ra, ha, dan mim, pada dasarnya menunjuk kepada arti “kelembutan hati”, “belas kasih”, dan “kehalusan”.

    Tugu ini memang pas berada di tanah Arab yang Karakter masyarakatnya cenderung keras, bayangkan saja bagaimana jika Nabi Muhamad SAW yang lemah lembut ini tidak “diturunkan” Alloh di negeri tandus ini ??? . Tipikal keras yang dimiliki oleh sebagian orang Arab ini entah karena kondisi alamnya yang keras dan tandus atau pola konsumsi yang lebih bnyak mengkonsumsi daging dari pada sayuran? Wallahualam.

    Baca juga :  “Jangan Tergesa-gesa Menjadi Orang Muhammadiyah”

    “Jangan belajar keramahan (hospitality) di negeri Arab”, ya itu yang ada dalam benak saya , dan Insyaalloh apa yang saya pikirkan ini berdasar, sejak pertama kali menginjak negeri ini kesan “tidak butuh tamu” sudah dimunculkan oleh petugas imigrasi (dan kesan ini tidak sy temukan ketika naik bisnis class, hehe) . Kondisi bandara yang “asal asalan” jika dibanding dengan gambaran kemewahan keluarga raja menunjukkan kesan “mereka tidak butuh kita toh kita juga pasti datang karena ada haromain”. Mereka lupa bahwa para tamu Alloh pun berfikir ; “ andaikan negerimu tak ada haromain, tak sudi rasanya aku kesini “ .

    Disaat saya ke bandara Jeddah sendirian by taksi dari Makkah saya salah masuk terminal, jangan bayangkan ada Shutle bus apa lagi skyttrain untuk menghubungkan antar terminal yang berdekatan (tapi terpisah pagar) , saya harus mencari taksi lagi menuju terminal yang jaraknya sekitar 1 km tapi harus keluar dulu skitar 5 -6 Km dengan tarif taksi penawaran pertama 200 SAR. Tapi untung ada taksi liar yang bisa diajak bernegosiasi dan akhirnya dapat 1/4 dari harga umum, namun setelah naik taksi dengan mobil yang ber Sunroof ditengah jalan dia berhenti dan memasukkan penumpang lagi, gubrak, kayak angkot nih , ya sutra lahhh.

    Baca juga :  “Jangan Tergesa-gesa Menjadi Orang Muhammadiyah”

    Pemandangan ini jauh berbeda dengan di Dubai atau Qatar mereka sepertinya belajar bnyak tentang hospitality dan tourism, mereka sadar betul ketersediaan minyak mereka pasti ada batas nya tapi jasa melayani hati manusia itu tak berbatas selama matahari masih menyinari bumi. Betapa pariwisata sudah menjadi devisa utama dari berbagai negara.

    Dunia Pariwisata tidak akan bisa lepas dari “jiwa Rahmah”, kasih sayang dan lemah lembut, bukan kah Nabi pun memerintahkan kita untuk menghormati tamu ? Tapi kenapa yang lebih banyak menerapkan anjuran anjuran nabi itu justru bukan ummat nya ? .

    Makin sayang dan cinta Indonesia dengan kultur ramah nya, semoga keramahan warga Indonesia ini cerminan dari nilai nilai Islam yang salamah dan penuh kerahmatan sesuai dari asal kata Islam dari aslm yang artinya DAMAI dan salam yang berarti SEJAHTERA. (*)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan