Rabu, 20 Oktober 2021
27 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiPasca Kemenangan Taliban, Lahirlah Pasukan Imam Mahdi? (Bagian 2 Tamat)

    Pasca Kemenangan Taliban, Lahirlah Pasukan Imam Mahdi? (Bagian 2 Tamat)

    Oleh Anwar Hudijono

    Apakah Taliban akan menjadi embrio Pasukan Panji Hitam Imam Mahdi? Jawabnya, nanti dulu. Taliban yang berintikan santri-santri pondok pesantren memang boleh dibilang sudah lolos seleksi tahap awal untuk menjadi Pasukan Imam Mahdi. Namun, masih ada satu tahap lagi ujian yang harus ditempuh yaitu pada saat berkuasa untuk kedua kalinya.

    Karena Pasukan Panji Hitam adalah pendukung Imam Mahdi maka persyaratan dasar yang harus dimiliki adalah bertindak adil dan tidak menuruti hawa nafsu. Harus saleh. Agar singkron dengan eksistensi khalifah dan misi kekhilafahan. Khalifah adalah harus orang saleh yang menegakkan keadilan dan tidak menuruti hawa nafsu.

    (Allah berfirman), “Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan Hari Perhitungan.” (Quran: Shad 26).

    Ujian pasca kemenangan itu tidak ringan. Apalagi pada saat berkuasa. Karena kekuasaan itu cenderung diselewengkan. Dalam istilah Jawa, melik nggendhong lali. Lupa diri dan lupa amanat kekuasaan. Banyak sekali kasus saat berjuang menjadi pahlawan tapi saat berkuasa berubah menjadi pengkhianat.

    Taliban pernah berkuasa di Afghanistan tahun 1996 -2001. Mereka berkuasa saat Afghanistan rusak parah akibat dilanda perang sejak 1979 – 1996 melawan Uni Soviet maupun perang saudara yang berlarut-larut. Masa kekuasaan lima tahun terlalu singkat untuk untuk mengukir hasil yang spektakuler.

    Baca juga :  Bahasa Indonesia di Media Pers, Perjuangan Jurnalis Tabrani

    Apalagi terus diserang propaganda media Barat, terutama yang dikendalikan Zionisme, bahwa Taliban itu rejim teroris, menindas wanita, bodoh, tidak demokratis. Akhirnya persepsi publik global terhadap Taliban begitu buruk dan seram. Sehingga Afghanistan di bawah rejim Taliban itu seolah jadi negara hantu. Sarang serigala buas.

    Tentu saja propaganda demikian merupakan settingan atau bagian skenario besar menghancurkan Taliban dan merusak Islam. Maka, begitu Amerika mencaplok Afghanistan, publik global mendukung. Skenarionya terbaca jelas Taliban – teroris – Islam. Lantas Islam dilengketkan dengan terorisme.

    Yang tertindas

    Adapun tanda-tanda lolos seleksi awal menjadi Pasukan Imam Mahdi sudah terbaca dan dikantongi Taliban.
    Pertama, sebagai pihak yang ditindas.
    “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu. Dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (Quran: Al Qashas 5).

    Selama lebih kurang 20 tahun Taliban benar-benar ditindas oleh Amerika dan NATO serta komprodor mereka. Mereka diganyang, diharu-biru, dirusak, dicabik-cabik, dikoyak-koyak.

    Kedua, Taliban berjuang dengan spirit ruhul jihad. Memiliki khittah perjuangan yang berdasar Al Quran dan Hadits. Di antaranya yang termaktub di Quran surah Al Maidah 54 – 56. Mereka mencintai Allah. Bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
    Lihat saja, mereka merebut kembali Ibukota Afghanistan, Kabul Sabtu (16 Agustus 2021) tanpa satu pun letusan senjata. Ledakan justru dilalukan Amerika dengan alasan menghancurkan dokumen. Helikopternya meraung-raung di udara. Serdadunya berlagak super sibuk melakukan evakuasi. Padahal bisa jadi hendak memancing kepanikan masyarakat. Amerika itu memang… embuh kok.

    Baca juga :  Bahasa Indonesia di Media Pers, Perjuangan Jurnalis Tabrani

    Taliban menunjukkan sikap ramah. Membawa perdamaian. Menawarkan amnesti dan abolisi. Mengayomi semua, termasuk bekas musuhnya. Mereka meniru Rasulullah ketika membuka Kota Mekah pada tahun 8 Hijriyah. Mantan Wapres Jusuf Kalla sampai berkomentar, Taliban sekarang berbeda dengan 20 tahun lalu.

    Mereka bersikap keras/tegas terhadap orang kafir sudah ditunjukkan yang tetap tidak mau menerima tawaran apapun dari Amerika. Akhirnya Amerika mau hengkang dengan jaminan dari Taliban bahwa selama masa penarikan pasukan, Taliban tidak menyerang mereka.

    Taliban berjihad di jalan Allah dengan prinsip hidup mulia atau mati syahid. Nah, cita-cita mati syahid inilah yang sulit dicari pada diri tentara profesional. Tidak takut terhadap celaan, bully, hinaan orang-orang yang memang dibayar untuk mencela. Ya buzzer begitulah.
    Mereka berjuang dengan harta dan jiwanya. (Quran: Shaf 12). Mereka yakin perjuangan suci harus pula menggunakan biaya yang suci, termasuk dari infaq dan sedekah. Untuk itulah mereka tidak mau menggunakan hasil bisnis opium sebagai sumber dana perjuangan.
    Mereka sangat yakin jika menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolong, maka akan menjadi pihak yang menang.

    Mereka sudah membuktikan itu sejak melawan imperialis-komunisme Uni Soviet. Inilah rahasianya mengapa Taliban menjadi satu-satunya kelompok mujahidin yang tetap eksis.
    Pada saat melawan Uni Soviet setidaknya ada sekitar 12 kelompok mujahidin atau perlawanan. Setelah Soviet hengkang, terjadilah audisi. Ada yang berubah menjadi raja-raja kecil, ada yang layu. Pada saat menghadapi penjajahan Amerika, praktis Taliban berjuang sendirian. Artinya Taliban sudah menjalani seleksi kelompok yang sangat ketat.

    Baca juga :  Bahasa Indonesia di Media Pers, Perjuangan Jurnalis Tabrani

    Bangunan yang kokoh

    Ketiga, Taliban berjuang tanpa membawa warna primordialisme seperti mazhab, etnis, suku, paham politik. Mereka berpijak pada Islam yang dibawa Rasulullah.

    Bisa jadi model inilah yang disimbolisasi dengan bendera atau panji-panji hitam. Artinya Islam yang hanya satu. Misi yang satu. Khittah yang satu. Tidak berwarna-warna. Bukan atas nama aliran ini aliran itu. Organisasi ini organisasi itu. Kelompok ini kelompok itu. Hanya satu warna. Ummatan wahidah (umat yang tunggal).

    Dengan begitu, Pasukan Imam Mahdi yang berpanji warna hitam tidak harus diartikan mesti membawa bendera hitam. Melainkan satu kesatuan pasukan yang utuh tanpa membawa sentimen primordialisme. Merupakan agregasi pejuang Islam apapun asalnya kemudian lebur menjadi pasukan yang tunggal.

    Pasukan itu seperti dilukiskan di Quran surah As Shaf ayat 4.
    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
    Kalau Pasukan Berpanji Hitam dipersepsi secara tekstual akan sangat mudah dimanipulasi. Suatu conton ISIS yang menggunakan bendera hitam. Itu jelas manipulasi karena ISIS itu bikinan zionisme Amerika-Israel untuk menghancurkan ukhuwah umat Islam.

    Keempat, Taliban sudah menunjukkan diri sebagai kekuatan yang tidak terkalahkan. Artinya ini pas dengan eksistensi Pasukan Berpanji Hitam Imam Mahdi sebagai pasukan yang tidak akan terkalahkan.
    Rabbi a’lam
    Mohon tidak langsung setuju, like and share tulisan ini. Bacalah secara kritis. Telitilah lebih dulu. Di era disinformasi ini harus dibudayakan meneliti setiap informasi agar tidak menimbulkan kehancuran suatu kaum. Hal itu ditegaskan Quran: Al Hujurat 6).
    Astaghfirullah. Barokallahu li walakum. (*)

    Anwar Hudijono, Penulis tinggal di Sidoarjo,Jawa Timur

    Reporter :
    Penulis : Anwar Hudijono
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan