Selasa, 22 Juni 2021
25 C
Surabaya
More

    1 Juni 1945

    Pagi hari, 1 Juni 1945. Empat hari berselang setelah sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibuka.

    Seorang insinyur berusia 43 tahun maju ke mimbar. Di sampingnya duduk pimpinan sidang, Dr. Radjiman Wedyodiningrat, seorang dokter dan aktivis senior yang disegani dari era Boedi Oetomo. Di hadapannya berbaris lima deret meja di sebelah kiri yang berhadapan dengan lima deret meja di sebelah kanan.

    Pada kedua sisi deretan meja itu, duduk tokoh-tokoh terkemuka se-Indonesia, kaum cerdik pandai yang menjadi perwakilan dari berbagai pergerakan rakyat Indonesia.

    Di baris sebelah kanan sang insinyur melihat Ki Hadjar Dewantara, seorang aktivis paripurna yang telah malang-melintang di alam pergerakan kebangsaan sejak awal abad ke-20.

    Sewaktu muda dan masih bernama Soewardi Soerjaningrat, ia pernah diinternir oleh Belanda akibat ketajaman penanya dalam mengkritik penindasan kolonial atas bangsa Indonesia.

    Beberapa meja serong ke kiri dari Ki Hadjar, sang insinyur menatap Haji Agoes Salim, cendekiawan Muslim asal Kota Gadang yang juga aktivis Sarekat Islam. Beberapa meja serong ke kiri dari cendekiawan kesohor itu, duduk pula Maria Ulfah Santoso, ketua pengurus besar Istri Indonesia, anggota Badan Pemberantas Buta Huruf dan Ketua Komisi Perkawinan dalam Badan Pekerja Kongres Perempuan Indonesia.

    Di baris meja sebelah kiri sang insinyur menemukan Mr. Tan Eng Hoa, seorang peranakan Tionghoa yang juga ahli hukum asli Semarang. Dua saf di belakangnya, duduk ulama besar Kyai Haji Wahid Hasjim, seorang tokoh penting Nadhlatul Ulama asal Jombang. Sebelah kiri sang Kyai, duduklah P.F. Dahler, seorang peranakan Indo yang juga aktivis pergerakan Insulinde.

    Tiga meja di depannya, duduk Mr. Johannes Latuharhary, seorang ahli hukum dari Saparua dan pengurus Parindra cabang Malang. Beberapa meja serong ke kiri, duduk pula Kyai Haji Mas Mansoer asal Surabaya yang pernah menjadi ketua pengurus besar Muhammadiyah Yogyakarta.

    Berdirilah tegak sang insinyur di hadapan para anggota sidang yang terkemuka itu. Dengan getar suara yang sarat akan nyala api kemerdekaan, ia bicara soal keperluan untuk merumuskan suatu “pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat, yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.” Ia lalu bicara tentang Pancasila.

    Asal-Usul Pancasila

    Apabila garuda yang jadi lambang negara kita berasal dari tahun 1950, Pancasila punya riwayat yang jauh lebih panjang. Pada tahun 1945, para pendiri bangsa telah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. Lima sila itu adalah landasan tempat kita berpijak dalam segala hal yang berhubungan dengan hidup bernegara.

    Setiap warga negara tentu merdeka untuk mengutarakan pikiran dan pendapatnya sendiri. Akan tetapi, kalau sudah menyangkut persoalan bernegara dan hidup bersama sebagai anggota dari negara, maka kita wajib berpedoman pada Pancasila.

    Semua aturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah harus bisa dirunut asal-muasalnya dalam semangat kelima sila dalam Pancasila. Itulah maksudnya Pancasila sebagai dasar negara.

    Walaupun baru dicetuskan pada tahun 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan ditetapkan dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Pancasila sebetulnya sudah berlaku dalam praktik sehari-hari masyarakat Indonesia.

    Soekarno tidak mengarang bebas waktu ia mencetuskan Pancasila pada sidang BPUPKI. Ia tidak mereka-reka Pancasila dari angan- angannya sendiri.

    Dalam mencetuskan Pancasila, Sang Proklamator merangkum pengalaman berjuang bangsa Indonesia melawan penjajahan. Ia membaca sejarah bangsa kita yang hidup sengsara di bawah penjajahan Belanda. Ia mempelajari bagaimana rakyat Indonesia ditindas oleh para priyayi setempat yang mengabdi Belanda. Ia menyelidiki sebab-sebab kenapa penjajahan biasa menimpa bangsa Indonesia.

    Kemudian Soekarno memperhatikan juga usaha-usaha mandiri bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Ia menyaksikan sendiri gelora rakyat banyak yang dengan penuh keberanian melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan. Ia belajar dari pengalaman bangsa Indonesia sejak awal abad ke-20 yang mau membangun tatanan masyarakat adil dan makmur, merdeka dari segala macam penindasan.

    Dari sanalah kemudian Soekarno, pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945, mencetuskan Pancasila sebagai landasan negara kita. Pancasila adalah saripati dari perjuangan melawan kolonialisme dan perjuangan membangun Negara Indonesia Merdeka.

    Oleh karena itu, membaca kisah Pancasila adalah membaca kisah perjuangan rakyat menghancurkan kolonialisme Belanda dan membangun Negara Indonesia Merdeka. Perlawanan terhadap penjajahan telah meletus di berbagai daerah sepanjang kepulauan Nusantara.

    Di Aceh kita punya Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia, dua perempuan gagah berani yang mengorbankan nyawa demi mengusir penjajah. Di Ambon, kita punya Martha Christina Tiahahu yang berontak terhadap penindasan Belanda atas masyarakat Maluku. Di Jawa, kita punya Nyi Ageng Serang, perempuan cerdik ahli siasat perang gerilya kepercayaan Pangeran Diponegoro, yang gigih melawan penyerobotan tanah yang dilakukan penjajah Belanda.

    Di Kalimantan, kita punya Pangeran Antasari bertempur melawan Belanda di sepanjang sungai Barito. Di Sulawesi, kita punya Pong Tiku, seorang gerilyawan piawai yang tak henti-hentinya membuat penjajah kesulitan menancapkan kaki di Tana Toraja.

    Dari abad ke-17 sampai dengan abad ke-19, pengorbanan para pahlawan kita tak berhasil mengusir penjajah Belanda. Apa sebabnya? Tak lain karena perjuangan kita terpecah-pecah, dijalankan sendiri-sendiri pada tiap-tiap wilayah. Setiap pahlawan berjuang untuk masyarakat di daerahnya. Mereka belum mengikatkan diri dalam satu kesatuan bangsa Indonesia. Mereka belum berjuang sebagai bangsa Indonesia yang satu.

    Penjajah Belanda menuai keuntungan dari kondisi masyarakat Nusantara yang terpecah belah. Bahkan tak jarang pula mereka memanfaatkan perbedaan itu demi menyulut perpecahan di antara masyarakat Nusantara sendiri.

    Agar masyarakat Nusantara tidak bersatu melawan Belanda, maka penjajah menanamkan ketidaksukaan antar daerah, prasangka antar etnis, kecurigaan antar pemeluk agama di Nusantara. Sebab mereka tahu, penjajahan hanya bisa langgeng kalau masyarakat yang terjajah itu terus terpecah-belah.

    Politik pecah-belah atau adu-domba inilah yang perlahan lahan disadari oleh rakyat Indonesia. Di awal abad ke-20, dengan tumbuhnya suratkabar yang diusahakan dan dikelola oleh bangsa Indonesia sendiri muncullah kesadaran persatuan sebagai bangsa.

    Muncullah kesadaran bahwa orang Jawa, orang Batak, orang Minang, orang Bone, orang Maluku, orang Flores, peranakan Arab, peranakan Tionghoa, semua etnis dari berbagai daerah di Nusantara itu sama-sama dijajah. Walaupun mereka berbeda- beda, tapi mereka tetap satu sebagai bangsa yang dijajah oleh Belanda.

    Oleh karena itu, perlawanan terhadap kolonialisme pun hanya akan berhasil apabila dilangsungkan sebagai suatu kesatuan tenaga, sebagai satu bangsa yang meronta dan berontak ingin merdeka.

    Maka lahirlah bangsa Indonesia, burung garuda yang gagah dan cemerlang itu. Maka bangun dan berdirilah bangsa Indonesia! Kita bangsa Indonesia terlahir dari etnis, agama dan pandangan hidup yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh nasib penjajahan yang sama dan oleh karena itu dipersatukan pula oleh api rasa merdeka yang sama. Kita berbeda-beda tapi tetap satu bangsa merdeka. Dengan begitu, bergulirlah perjuangan rakyat Nusantara sebagai bangsa Indonesia pada awal abad ke-20. Orang-orang membangun partai tidak lagi atas dasar etnis, agama dan kewilayahan, tetapi atas dasar keinginan bersama untuk merdeka.

    Atas desakan zaman yang mewujud dalam perlawanan rakyat di mana-mana, muncullah para pemimpin pergerakan kebangsaan. Dibentuklah Indische Partij sebagai partai politik pertama di Indonesia pada 25 Desember 1912 oleh Douwes Dekker, Ki Hadjar Dewantara, dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Mereka ditangkap dan dibuang karena mengkritik pemerintah Belanda.

    Kemudian tumbuh partai-partai lain yang ditanggapi dengan keras oleh pemerintah kolonial. Sebagian dibubarkan, anggotanya diasingkan, bahkan dibunuh dan dianiaya.

    Di tengah gelora itu, tampillah Soekarno memimpin Partai Nasional Indonesia yang mencita-citakan kemerdekaan Indonesia. Ia berulang-kali ditangkap, dijebloskan ke penjara dan diasingkan ke berbagai daerah di sepanjang Nusantara. Tapi ia tetap teguh memimpin perjuangan bangsa Indonesia ke arah kemerdekaan. Di tengah hiruk-pikuk perjuangan nasional itulah ia mencetuskan Pancasila sebagai intisari perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka.

    Kisah Pancasila adalah kisah perlawanan rakyat untuk menggantikan tatanan masyarakat terjajah dengan tatanan masyarakat merdeka. Kisah Pancasila adalah kisah bangsa merdeka. Inilah kisah yang belum selesai hingga kini. Kisah Pancasila adalah kisah kita semua. ***

    Reporter :
    Penulis :
    Editor : Wetly Aljufri
    Redaktur :
    Sumber : Kemendikbud

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan