Senin, 21 Juni 2021
27 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiIbu Kota untuk Kemanfaatan dan Mengembalikan Kejayaan Surabaya

    Ibu Kota untuk Kemanfaatan dan Mengembalikan Kejayaan Surabaya

    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Refleksi HJKS ke 728 (4)

    Perubahan Surabaya juga sscara profssional berdasarkan faktor perubahan peta karena pengaruh kekuasaan sesuai kebijakan penguasa. Dan inilah peta agak modern di zaman penjajahan.

    Surabaya ketika itu masih menjadi ibu kota Karesidenan, kemudian perkembangan waktu dan menjadi pusat keramaian berubah menjadi ibu kota provinsi.

    Peta Surabaya dari buku panduan perjalanan dari Inggris tahun 1897. Kemudian Kawasan Jembatan Merah sekitar tahun 1920-an.

    Rumah warga Belanda di sepanjang sungai Surabaya.
    Pada masa Hindia Belanda, Surabaya berstatus sebagai ibu kota Karesidenan Surabaya, yang wilayahnya juga mencakup daerah yang kini wilayah Kabupaten Gresik; Sidoarjo; Mojokerto; dan Jombang.

    Pada tahun 1905, Surabaya mendapat status kotamadya (gemeente). Pada tahun 1926, Surabaya ditetapkan sebagai ibu kota provinsi Jawa Timur. Sejak saat itu Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia Belanda setelah Batavia.

    Sebelum tahun 1900, pusat kota Surabaya hanya berkisar di sekitar Jembatan Merah saja. Pada tahun 1910, fasilitas pelabuhan modern dibangun di Surabaya, yang kini dikenal dengan nama Pelabuhan Tanjung Perak. Sampai tahun 1920-an, tumbuh permukiman baru seperti daerah Darmo; Gubeng; Sawahan; dan Ketabang.

    Tanggal 3 Februari 1942, Jepang menjatuhkan bom di Surabaya. Pada bulan Maret 1942, Jepang berhasil merebut Surabaya. Surabaya kemudian menjadi sasaran serangan udara tentara Sekutu pada tanggal 17 Mei 1944.

    Kejatuhan Jepang membuat suasana berubah. Bahkan kantong-kantong perjuangan sudah mulai mengakar kuat dengan kondisi sudah terorganisir. Sehingga perlawanan terhadap penjajah semakin kokoh dan kuat.

    Pesan paling kuat bahwa Kota Surabaya sebagai pilihan dari ibu kota Karesidenan dan ibu kota Provini, memiliki wilayah strategis dalam menjaga dan mengawal keseimbangan Indonesia wilayah timur.

    Oleh karena itu, hari jadi Kota Surabaya ke-728, bukan sekedar milik warga Surabaya, tetapi lebih luas untuk kemaslahatan atau kemanfaatan bangsa dan negara.

    Kota Surabaya akan terus menenun sejarah bangsa Indonesia, tentu saja sesuai dengan tuntutan zaman dan situasi serta kondisi perubahan zaman. Wali Kota Risma sudah mengubah, Wali Kota Eri menjaga dan melanjutkan dengan gebrakan tidak kalah merakyat dan selalu mengedepankan kesejahteraan dan kemakmuran warga Surabaya.

    Mengambilkan kejayaan Kota Surabaya masa lalu, masa kini, masa akan datang. InsyaAllah Kota Surabaya selalu memimpin zaman dengan Wali Kota amanah dan selalu menjaga martabat Arek-Arek Suroboyo.
    (Jt/bbs/bersambung)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan