Dr. Dhimam Abror, MSi, Wartawan senior

Dhimam Abror Djuraid

Gisel Anastasia menjadi selebritas paling banyak diperbincangkan minggu-minggu ini. Hiruk-pikuk berita politik dan hingar-bingar berita pagebluk Covid 19 harus minggir diterjang cerita mengenai Gisel.

Selebritas ini iseng memvideo hubungan seksual extra maritalnya sendiri yang kemudian tersebar luas di media sosial. Sekarang Gisel menjadi tersangka dan harus mempertanggungjawabkan keisengannya itu.

Akhir-akhir ini selebritas Indonesia menjadi heboh karena ulah-ulah negatif dan gosip-gosip murahan daripada karena kerja keseniannya. Ada yang ditangkap karena video porno, banyak yang ditangkap karena nyabu, dan tidak sedikit yang dicokok karena terlibat pelacuran online.

Tak terhitung berapa banyak selebritas yang tertangkap basah di hotel bersama laki-laki pelanggan dan mucikari yang menjajakannya secara online. Ketika tertangkap basah seperti ini selebritas itu dirahasiakan namanya dan hanya disebut inisialnya saja. Wajahnya pun disembunyikan secara ketat dari kamera supaya tidak diketahui publik.

Tindakan ini dilakukan seolah-olah pelacur online itu begitu mulia sehingga nama dan harga dirinya harus dijaga, dilindungi, dan tidak dipaparkan kepada publik.

Sangat beda perlakuan yang diterima oleh terduga pelaku kejahatan lainnya. Para pejabat yang ditangkap atas dugaan korupsi, para aktivis politik yang diringkus karena kritiknya terhadap kekuasaan, dan bahkan para pemimpin umat yang punya pengikut ratusan ribu atau jutaan, tidak mendapatkan keistimewaan perlakuan seperti itu. Wajah mereka dipamerkan kepada publik melalui media, tangan mereka diborgol dan harus mengenakan rompi berwarna mencolok.

Katanya tujuannya supaya memberi efek jera. Tapi tidak ada yang jera melakukan aktivitas korupsi. Tidak ada yang jera melakukan kritik terhadap kekuasaan, dan tidak ada yang jera melakukan dakwah amar makruf nahi munkar yang mereka yakini kebenarannya.

Mereka menghadapi peradilan dan hukuman panjang bertahun-tahun, dan bahkan hak politiknya dicabut. Setelah bebas nanti mereka masih merasakan hukuman sosial karena dicap sebagai mantan narapidana. Stigma ini, bisa jadi, menempel terus seumur hidup.

Para pelaku prostitusi online yang disembunyikan identitasnya itu, tentu saja, tidak merasakan efek jera.

Hukuman mereka, kalau toh ada, ringan, hanya beberapa bulan atau satu-dua tahun. Banyak yang tidak dihukum tapi direhabilitasi. Setelah selesai masa hukuman tidak pernah ada yang menyebutnya sebagai mantan napi.

Alih-alih mendapatkan hukuman sosial tambahan dari masyarakat para selebritas kejahatan seksual itu malah lebih terkenal dan mempunyai pengikut yang makin besar di media sosial yang menghasilkan uang miliaran rupiah.

Banyak yang membuat ulah aneh-aneh sekadar untuk cari sensasi dan mendapatkan konten untuk diunggah ke media sosial. Mereka melakukan “panjat sosial” alias pansos supaya pengikutnya semakin banyak.

Karena itu selebritas semacam Gisel ini akan terus-menerus bermunculan. Selebritas yang menjadi pelacur online akan terus bermunculan, karena tidak ada mekanisme hukum dan sosial yang bisa membuat mereka jera, malah sebaliknya banyak yang mendapat berkah pansos.

Mereka tidak dihujat atau dimusuhi, malah sebaliknya banyak yang memuji dan mendukung. Tindakan penyelewengan dalam perkawinan seperti yang dilakukan Gisel tidak dikecam tapi malah dianggap sebagai life style, gaya hidup, dan tren baru dalam pergaulan.

Penyelewengan extra marital ala Gisel disebut sebagai gaya hidup “open relation” yang banyak ditiru dan dipraktikkan pasangan perkotaan. Mereka menikah tapi punya “hubungan terbuka” dengan orang lain dan dilakukan atas sepengetahuan pasangan masing-masing.

Karena dianggap sebagai gaya hidup maka pelakunya tidak merasa bersalah atau berdosa, tapi malah bangga karena bisa mengikuti gaya hidup dan tren terkini. Kalau toh ada hukuman tidak akan menghancurkan karir mereka malah bisa dipakai untuk sarana pansos.

Banyak sekali selebritas sejenis itu yang sekarang makin populer dan menjadi pemengaruh (influencer) di media sosial dengan pengikut yang besar. Mereka menjadi endorser (pendukung) bagi banyak produk mulai dari pakaian sampai makanan dan obat-obatan. Nasihat mereka didengarkan dengan patuh oleh para pengikutnya.

Di tengah situasi pagebluk Covid 19 yang membingungkan ini para selebritas muncul menjadi orang bijak yang memberi petitah-petitih. Luna Maya pun berbicara mengenai pandemi dan menjadi viral, dipercaya dan diikuti banyak pengikutnya. Semua pada lupa bahwa sekian tahun yang lalu Luna Maya menjadi pelaku video mesum persis yang dilakukan Gisel sekarang ini.

Kepakaran telah mati. The Death of Expertise, kata ahli ilmu sosial Amerika Serikat, Tom Nichols (2017). Orang bisa bicara apa saja di media sosial tanpa didasari pengetahuan yang cukup dan keahlian yang memadai. Para selebritas itu jauh lebih didengar omongannya dibanding profesor dari universitas ternama.

“Era yang sangat berbahaya”, kata Tom Nichols, karena belum pernah ada era seperti sekarang ketika semua orang mempunyai akses yang sangat terbuka dan berlimpah terhadap berbagai macam pengetahuan tetapi semakin enggan masyarakat untuk mempelajarinya.

Karena itu lantas muncul para selebritas pansos yang bicara apa saja tanpa kompetensi apa pun. Orang-orang yang mempunyai kualifikasi dan keahlian tertentu malah tersingkir dan seringkali dihujat dan dipersekusi.

Habib Rizieq, Gus Nur, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, hanyalah sebagian saja dari contoh matinya kepakaran. Mereka yang punya komitmen terhadap nilai-nilai tertentu dalam politik maupun agama harus menghadapi tanggung jawab hukum yang pahit.

Sementara di sisi lain banyak selebritas, yang tidak punya kompetensi dan tidak punya nilai-nilai yang diperjuangkan, malah menikmati gelimang kemakmuran karena matinya kepakaran. (*)