Rabu, 22 September 2021
33 C
Surabaya
More
    Renungan PagiRenungan Akhir Tahun: Memahami Watak Kita, Disusupi Fir’aun Atau Abu Lahab (3)

    Renungan Akhir Tahun: Memahami Watak Kita, Disusupi Fir’aun Atau Abu Lahab (3)

    Oleh: HS. Makin Rahmat

    Ada pertanyaan menggelitik di hati saya, yaitu kecondongan manusia untuk berbuat kesewenang-wenangan. Merasa dirinya benar, yang lain salah. Padahal rambu peringatan untuk mematuhi perintah Allah , menjauhi laranganNya merupakan tuntutan normatif dan jelas.

    Kalau pun kita belum mampu menjadi penerus perjuangan para hambaNya yang sholeh, mudah-mudahan tidak terjerembak dalam peran antagonis yang jelas-jelas sudah dijabarkan dengan gamblang oleh Allah SWT.

    Bagaimana jika jatuh disusupi ayat: Abu Lahab? Firman Allah yang menjabarkan kesombongan, kepongahan, kecongkakan, dan kebodohan hambaNya terungkap jelas. Kalimat pengingat yang santun, “teliti dirimu sendiri, maka engkau tahu posisi dirimu lagi di ayat mana. Bila seeorang lagi di ayat summun bukmun umyun fahum laa yarjiun, itu berarti hatinya sudah buntu… buta, tuli, bisu, hatinya membatu dan keras. Wallahu a’lam bish-showab.

    Subyektif saya, hal paling rentan kemasukan bisikan “Iblis” itu malah ahli tauhid sendiri, karena iblis itu memang paling makrifatullah. Ciri-ciri ahli tauhid yang kemasukan iblis adalah “ana khairun minhum” (saya lebih baik darinya), yaitu kesukaannya merasa benar sendiri dengan melecehkan atau mencela dan menghina orang lain.

    Menganggap ajarannya yang paling benar sendiri, kayak paling suci sendiri. Iblis menolak untuk hormat kepada Adam, karena merasa lebih baik.

    Berawal dari iqro’ kitabaka atau muhasabah diri itulah diharapkan manusia menemukan cela-cela dirinya sendiri, lalu dari situlah timbul usaha untuk memperbaiki diri. Membaca dan mengkoreksi orang lain adalah sebuah kesalahan fatal sebab akan menimbulkan prasangka.

    Padahal kalau prasangka itu benar tidak aka nada hadiah, sebaliknya jika salah menjadi su’udzon dan berdosa.

    Celakanya dari semua itu, sebagai asbab, adalah sangat mengerikan tatkala hati kita selalu “terpancing” dengan berbagai “permainan” di dunia ini, terpancing untuk mengamati, meneliti dan “membaca” orang lain. Lambat laun kita digiring agar lupa mengamati diri sendiri.

    Akan gagal melakukan “iqro’ kitabaka”, gagal membaca diri sendiri. Kita digiring serong dari tujuan utama hidup ini. Perlahan lupa pelajaran demi pelajaran, sampai akhirnya kita ingat kembali tatkala kita sudah tersesat jalan terlampau jauh.

    Dalam kesempatan ini, saya membahas enam sifat yang dibenci Allah SWT. Marilah kita introspeksi, apakah hati kita sudah bersih dan terhindar dari enam sifat tersebut, ataukah sebaliknya, justru enam sifat tersebut tertanam kuat dan bercokol di hati kita. Na’udzu billahi min dzalik.

    Ibnu Hibban meriwayatkan dalam hadits shahih dari Abu Hurairah RA, intinya Rasulullah bersabda: Allah SWT membenci seseorang yang memiliki enam sifat berikut ini: takabbur atau sombong, rakus (gandrung harta), suka mencemooh, menjadi bangkai di malam hari, menjadi keledai di siang hari, dan mengetahui perkara dunia namun bodoh mengenai perkara akhirat.

    Yakni orang yang takabbur atau sombong. Sombong ada dua macam. Pertama, menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang lain padahal ia tahu bahwa hal itu benar, dikarenakan penyampai kebenaran lebih muda usianya, lebih miskin hartanya, lebih rendah status sosialnya atau karena hal lain. Padahal fir’aun tidaklah binasa kecuali karena sifat takabburnya.

    Fir’aun telah melihat sekian banyak mukjizat Nabi Musa AS, namun ia tidak beriman kepada Nabi Musa. Haman, perdana menteri Fir’aun ketika itu berkata kepada Fir’aun: “Jika engkau beriman kepada Musa, maka engkau akan kembali menjadi hamba yang menyembah, padahal selama ini engkau sudah menjadi tuhan yang disembah.”
    Demikian pula Bani Isra’il yang diutus kepada mereka Nabi Isa AS. Setelah mereka melihat mu’jizat Nabi Isa, tidak ada yang membuat mereka tidak beriman kecuali sifat takabbur. Mereka berkata, jika mereka beriman, maka akan lenyaplah kehormatan dan kekuasaan mereka.

    Demikian pula Abu Lahab dan tokoh-tokoh kafir Quraisy, setelah mereka melihat mu’jizat al-Qur’an dan mengakui bahwa al-Qur’an tidak seperti puisi dan prosa yang mereka kenal, tidak ada yang membinasakan mereka dan membuat mereka tidak beriman kecuali sifat takabbur mereka. Jenis takabbur yang kedua adalah merendahkan orang lain.

    Berikutnya, seseorang yang rakus dan gandrung untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan niat yang tidak benar dan didorong kecintaannya pada harta. Ia tidak peduli dari mana harta itu ia peroleh, apakah dari sumber yang halal ataukah haram.

    Sifat lanjutan, menimbulkan omongan mencemooh dan menjadi bangkai di malam hari. Artinya, lupa terhadap siapa yang memberikan rejeki, tidak lagi shalat malam atau berdzikir mengingat Allah. Di siang hari menjadi keledai. Hidup hanya dipergunakan mencari duniawi, bukan akhirat. Sehingga muncul sifat, sangat memahami perkara dunia (harta), namun bodoh mengenai akhirat alias tidak pernah beribadah.

    Rasulullah SAW bersabda: “Mencari ilmu agama yang pokok (ilmu agama yang dasar) hukumnya adalah fardlu ‘ain bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan),” (HR Ibnu Majah dan al-Baihaqi).

    Marilah kita renungkan mutiara nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengingatkan kepada kita semua bahwa kehidupan dunia adalah waktu untuk beramal, dan semua yang kita lakukan di dunia ini akan kita pertanggungjawabkan di akhirat:
    Maknanya: “Dunia berjalan membelakangi kita, sedangkan akhirat berjalan menghampiri kita. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anaknya. Maka jadilah bagian dari anak-anak akhirat (mementingkan akhirat) dan janganlah menjadi bagian dari anak-anak dunia (selalu mementingkan dunia), karena hari ini (kehidupan dunia) adalah waktunya beramal dan tidak ada hisab, sedangkan besok (kehidupan akhirat) adalah waktunya mempertanggungjawabkan amal, dan bukan waktunya beramal,” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari). Semoga hidup kita di tahun 2021 tetap penuh makna. Barokallah. (Oleh: HS. Makin Rahmat, Ketua SMSI Jawa Timur/habis)

    Reporter :
    Penulis : HS. Makin Rahmat
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan

    Untukmu Para Istri…

    Wahai Para Istri…

    Rahasia Kebahagiaan

    Amanah