Pada waktu itu, para tokoh nasional ini ingin mendirikan perguruan tinggi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, namun terkendala dengan tidak ada tempat perkuliahan. Atas kemurahan hati Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pada awalnya perkuliahan diperkenankan dilakukan di Pagelaran Kraton Yogyakarta. Lalu atas kemurahan hatinya pula, dihibahkan 183 hektar tanah di Bulak Sumur untuk kemudian dibangun Gedung Perkuliahan UGM, yang dipergunakan hingga saat ini.
Menko Airlangga menerangkan,”Hikmah dari peringatan Nitilaku ini, bukan sekedar perpindahan tempat perkuliahan UGM saja. Namun lebih dari itu, yaitu agar seluruh akademisi dan mahasiswa UGM tidak lupa pada akar sejarahnya, nilai-nilai kebudayaan, serta yang terpenting adalah mengingat niat dan upaya para pendiri bangsa, dalam meningkatkan kapasitas SDM Indonesia.”
Sejak berdiri, Universitas Gadjah Mada terus berkembang dan keberadaannya telah mampu membuktikan bahwa institusi ini telah menjadi pionir pada bidang pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, serta pengabdian kepada masyarakat. Hal ini terlihat dari nilai-nilai sinergi UGM yang dikenal dengan Sinergi 5K (Kampus, Keraton, Kampung, Komunitas, dan Korporasi) terus dapat dirasakan hingga saat ini.
Menko Airlangga juga mengapresiasi peran aktif UGM dalam upaya memerangi dampak pandemi Covid-19 di Indonesia. Peneliti UGM telah berhasil menciptakan terobosan inovasi melalui alat Ge-Nose C-19 yang merupakan pengembangan uji Covid-19 yang simpel, murah, dan cepat menghasilkan hasil.
“Alat ini dapat menjadi solusi uji Covid-19 di tengah tingginya mobilitas masyarakat. Pemerintah sangat mengapresiasi inovasi dan sinergi antara kampus dan korporasi seperti ini, dan berharap akan ada lebih banyak lagi terobosan inovasi di masa yang akan datang,” tutup Airlangga. (hms/menko/guh)





