Sabtu, 22 Juni 2024
30 C
Surabaya
More
    OpiniPojok TransparansiDemi Masa Wartawan “Merugi”

    Demi Masa Wartawan “Merugi”

    Oleh : DjokoTetuko (Pemimpin Redaksi Transparansi)

    Dalam beberapa kesempatan ketika ditanya mengenai jati diri wartawan sejati, maka Surat Al-Asr senantiasa menjadi rujukan bahwa Sesunggunya wartawan itu pekerjaan sangat mulia. Surat pendek dengan tiga ayat ini, menurut Imam Syafi’i dalam Tafsir Ibnu Katsir andaikata satu mushaf Al-Qur’an diringkas maka surat dengan awalan “Demi Masa” mampu mewakili.

    Awal bulan Syawal 1441 H ini dunia kewartawan heboh, ketika wartawan detikcom mendapat ancaman pembunuhan dan sederetan tekanan sangat dahsyat. Dan itulah sesungguhnya uji kompetensi wartawan dipertaruhkan? Masih memegang teguh etika di atas berbagai kepentingan dan mengutamakan sikap profesional dalam berkarya, ataukah sudah keluar dari rambu-rambu sebagai kuli tinta.

    Surat pendek berawal dengan sumpah Allah Subhanahu Wa Ta’ala “Demi Waktu”, sekedar mengingatkan bahwa waktu kapan pun harus melakukan introspeksi minimal sebagaimana termaktub dalam tafsir ayat ini; (1) Demi masa; (2) Sesunggunya semua manusia (termasuk wartawan) merugi;(3) kecuali yang beriman dan beramal sholeh, dan saling mengingatkan tenteng kebenaran dan saling mengingatkan tentang kesabaran.

    Gonjang-ganjing dunia jurnalistik ketika ancaman pembunuhan merebak, dari sebuah skenario bau busuk akibat pemberitaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di salah satu Mall di Bekasi, (26/4/2020), menyebar ke mana-mana? Adakah ini pertanda dunia pers sangat lemah atau sengaja dilemahkan. Apalagi aroma bau busuk itu dari istana kekuasaan. Apalagi di tengah pandemi virus Corona dunia pers (perusahaan media pers) juga berteriak terdampak.

    Dua kekuatan organisai wartawan paling besar, Aliansi Jurnalis Indoensia (AJI) dan Persatuan Wartawan Indoensia (PWI) serta Forum Pemred (Pemimpin Redaksi) menyuarakan suara lantang, bahkan juga memberikan reaksi ancaman dan tekanan. Perjuangan seperti ini menjadi kebiasaan, dan barang siapa tidak mengikuti kebiasaan, maka akan ditinggal oleh kehormatan.

    Khalifah paling cerdas dengan julukan “pintu ilmu” Ali bin Abi Thalib di antara syair dan fatwa sebagai pemimpin umat menyatakan, “barang siapa berjalan di belakang jaman, maka dia akan dilupakan oleh jaman”; “barang siapa berjalan bersama jaman, maka dia akan ditinggal oleh jaman”; dan “barang siapa berjalan di depan jaman, maka dia akan memimpin jaman”.

    Ketika wabah, balak, penyakit, virus Corona dengan sebutan Covid-19 “bertamasya” keliling dunia, maka dunia merasakan sebuah goncangan sangat dahsyat. Bahkan ancaman kematian jutaan orang di depan mata, walaupun semua berbeda-beda. Ada negara kaya raya, punya senjata, punya dokter istimewa, punya gaya kehidupan serba mewah, punya segala macam alat perang di dunia, tergelepar menyerah kalah. Menerima kenyataan sangat pahit dengan angka kasus Covid-19 sangat tinggi, termasuk jumlah korban meninggal dunia.

    Ada negara miskin, negara baru maju, negara penuh dengan sengketa, negara jajahan, negara tidak jelas, negara dipinggirkan, menerima kenyataan dengan bersyukur dan berterima kasih, karena virus Corona hanya sekedar jalan-jalan, hanya sesekali mengganggu tetapi itu tidak punya arti. Bahkan tidak membuat mereka harus lari-lari kesana kemari, tidak membuat mereka berdiam diri. Apalagi tidak pernah kena sinar matahari, hanya karena ingin melindungi diri tidak sampai terkena infeksi virus yang katanya menjemput mati.

    Wartawan sejati, di mana saja, kapan saja, peristiwa apa saja, senantiasa menjadi penyeimbang kehidupan di tengah-tengah hiruk pikuk ketidakjelasan, dengan karya jurnalistik menuangkan ide, memutar otak dan pikiran, melakukan kontrol sosial, memberikan pujian juga memberikan kritik konstruktif. Jika tidak melakukan seperti itu, maka masuk golongan “…, wartawan yang merugi”. Tetapi jika melakukan dengan karya kewartawanan sangat profesional, juga mampu mengendalikan emosi, dengan penuh kesabaran dan mampu mengungkap kebenaran di antara “kebenaran dan kebobrokan”, itulah wartawan sejati, dengan jati diri suci mempertaruhkan uji kompetensi guna meraih predikat “wartawan profesional” karena iman dan amal sholeh, sesuai janji Allah Ta’ala akan menerima kebaikan di dunia dan di akhirat.

    Kasus wartawan detikcom, mari masyarakat pers menempatkan diri sebagai wartawan sejati, yaitu profesional dalam menyajikan karya jurnalistik, mampu menuangkan kebenaran yang membahayakan masyarakat/khalayak ramai dengan kata dan kalimat menyejukkan. Juga sanggup menguraikan tentang kebenaran dengan terang benderang, setelah itu menempuh jalan sabar tawakal karena memang karya jurnalistik adalah sebuah karya tulis, bukan fatwa ulama atau kitab suci. Tetapi kadang lebih berisi dan punya solusi.

    Tokoh pers dan masyarakat pers mari menenun sejarah panjang, perjalanan wartawan dengan kekuasaan di tanah air, di Republik Indonesia tercinta, dimana hampir semua Presiden pasang-surut bersama media pers dan wartawan, sejak Presiden Soekarno bersama para pendiri bangsa memberikan kemerdekaan pers dan kemerdekaan berpendapat hingga masuk UUD 1945, setelah “bulan madu” dirasakan cukup maka dunia pers kembali menjadi target pengkerdilan bahkan pembredelan. Demikian pula jaman Presiden Soeharto di era Orde Baru, dan kini di era Reformasi bau anyir meninabobokan media pers dan wartawan, masih terus menggelinding bak bola salju.

    Ketika media pers dan wartawan sebagai garda terdepan menyajikan berbagai Informasi dalam karya jurnalistik, mendahulukan keimanan (keyakinan) atas semua rencana berita dari jutaan peristiwa, kemudian menjaga jati diri juga integritas secara totalitas dengan berbuat baik dalam semua aktifitas, menguasai semua persoalan terkait dengan sebuah karya jurnalistik tentang kebenaran, kebobrokan, kebohongan, kebatilan, sekaligus mempunnyai kemampuan memilih dan memilah untuk konsumsi masyarakat. Bahkan punya kemauan dan kemampuan memberikan jalan terbaik sebagai upaya menebarkan pendidikan dan kritik konstruktif. Itulah tafsir Surat Al-Asr dalam profesi wartawan.

    Sudah banyak catatan tentang kasus wartawan dalam ancaman pembunuhan, bahkan sudah terbunuh, dalam tekanan karena pemberitaan sampai tekanan terhadap kehidupan pribadi keluarga dan pengrusakan harta benda, hanya satu-dua kasus berhasil mendapat putusan berkeadilan. Tetapi sebagian besar berhenti di meja perundingan, bahkan dibiarkan tanpa penyelesaian, walaupun tokoh-tokoh pers sudah berteriak lantang menyampaikan gugatan. Juga mengancam dengan nada lumayan menakutkan.

    Belajar dari banyak peristiwa dan kejadian, maka ke depan setiap menangani persoalan seperti sekarang ini, jauh lebih baik dan hebat bermatabat, jika dengan profesional membentuk “Tim Investigasi” langsung maupun tidak langsung , sampai minimal dapat menyampaikan hasil investigasi itu kepada khalayak ramai bahwa kasus hasil investigasi seperti tafsir Surat Ars, meyakini kejadian atau peristiwa itu terjadi dengan benar atau akan terjadi dengan benar dengan narasumber yang kompeten, semua dilakukan dengan niat kebaikan untuk kemanfaatan, juga sudah menguasai berbagai informasi tentang kebenaran, kemungkinan kesalahan atau sengaja disalahkan. Mampu mengungkap kebenaran di antara kebenaran dan kebohongan atau jebakan. Dan menjaga martabat dengan tetap memberikan kehormatan kepada siapa saja seraya sabar menunggu dengan percaya bahwa jalan yang ditempuh akan melahirkan putusan atau hasil berkeadilan.

    Kasus wartawan detikcom sudah telanjur mencuat ke permukaan, ibarat kapal berlabuh di pelabuhan, “timah panas” dilawan “pena panas”, maka semakin memanas. Barangkali perlu kontemplasi sejenak saja bahwa “pena sejuk”, “pena dingin”, “pena profesional”, dan “pena penuh kearifan”, mungkin lebih tajam dan bermakna dengan melemahkan “timah panas” menjadi “titah tuan Presiden tentang kebenaran yang berkeadilan”. Dan memimpin jaman memang memerlukan pemikiran dan pena lebih tajam, daripada sekedar berpendapat lantang. Apalagi melawan karena tertantang. Ingat! “Manusia (wartawan) yang baik (profesional), yang bermanfaat bagi manusia lainnya”.

    “Pena wartawan”, “pena organisasi wartawan”, “pena pimpinan wartawan”, insyaAllah sangat tajam. Namun “silaturrahmi wartawan” (konfirmasi, investigasi, dan memberi cover both said) jauh lebih dahsyat, tajam mendalam, meluluhlantakkan keangkuhan juga kesombongan. InsyaAllah.

    Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Siapa yang ingin diluaskan rejekinya atau meninggalkan nama sebagai orang baik setelah kematiannya hendaklah dia menyambung silaturrahim.” (HR. Al-Bukhari)

    Nabi SAW juga menganjurkan umatnya untuk meminta maaf atau minta dihalalkan jika melakukan kesalahan kepada orang lain. Sebagaimana beliau bersabda,

    “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia).” (HR. Al-Bukhari).

    Dalam berbagai kasus berkaitan dengan wartawan, supaya tidak masuk golongan merugi, melakukan “silaturrahmi wartawan” (konfirmasi, investigasi, dan memberi cover both said), dengan rendah hati, tetapi menjunjung tinggi profesi, insyaAllah akan menempatkan “wartawan profesional sejati”, mendapat kebaikan di dunia dan akhirat. Karena bekerja dengan hebat dan bermartabat dalam membela umat. (jt)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan