Melawan Gizi Buruk, Melawan Stunting
Memerlukan keseriusan Gubernur Khofifah Indar Parawansa untuk melakukan perlawanan dengan memotret secara benar melalui pendataan dengan melibatkan berbagai pihak secara sungguh-sungguh sekaligus mempertajam motto CETTAR..
Mengapa demikian? Kabar bahwa Provinsi Jatim sempat menduduki peringkat kedua secara nasional, di bawah Nusa Tenggara Timur dan di atas Jateng dan Banten, sungguh suatu kegagalan terbesar Dinas Kesehatan Jatim dalam memerangi dan melawan dua hal berkaitan dengan penderita gizi buruk dan stunting, dengan potensi dasar bisa terjadi karena kesalahan asupan gizi sejak bayi, sehingga pada saat masuk bayi lima tahun (balita) mengalami penderita gizi buruk dan stunting.
Tetapi kesalahan akibat asupan gizi, juga pernyataan bahwa anggaran sebesar Rp 28 miliar lebih hanya terserap 7,5 persen, menunjukkan bahwa ketika mendapat informasi masalah penderita gizi buruk pada balita, dan stunting pada balita, maka Dinas Kesehatan dan pihak terkait tidak melakukan langkah-langkah strategis untuk memerangi dan melawan dengan melakukan gerakan secara massal untuk mendata, dan jika benar melakukan langkah-langkah perbaikan menuju balita sehat.
Oleh karena itu, supaya masalah penderita gizi buruk pada balita dan stunting pada balita ini, tidak menjadi isu kurang menguntungkan bagi Provinsi Jatim, maka mau tidak mau, suka tidak suka, harus ada program prioritas sebagai gerakan massal untuk memerangi dan melawan dengan langkah-langkah nyata dan startegis. Paling tidak 12 kabupaten sebagaimana data di atas, dilakukan pendataan ulang dengan rincian penderita gizi buruk secara detail, termauk langkah-langkah dalam melakukan perbaikan.
Demikian juga bagi stunting pada balita, harus menjadi kampanye Jatim untuk memerangi dan melawan dengan melakukan pendataan secara detail, mengetahui sebab musabab karena faktor apa? Kemudian melakukan langkah-langkah nyata secara strategis untuk melakukan perbaikan menuju kehidupan normal, tentu saja dengan gerakan massal melalui program prioritas, sehingga ke depan Jatim akan mampu mengurangi angka penderita gizi buruk pada balita sampai di bawah 1 persen. Bahkan diprogramkan mendekati zero persen dengan penanganan secara khusus melalui program prioritas.
Tercatat penderita gixi buruk pada balita pernah 2,2 persen (2013), kemudian turun menjadi 2 persen (2014), naik lagi menjadi 2.2 persen (2015) dan turun menjadi 1,8 persen (2016), tetapi data itu belum valid sesuai dengan kondisi riil di lapangan dengan data pendukung akibat karena apa? Kemudian dilakukan penanganan sebagai perbaikan seperti apa? dengan hasil mencapai posisi bagaimana?
Dua belas kabupaten/kota dengan catatan sangat tinggi penderita gizi buruk pada balita dan stunting, mendapat treatment khusus. Sebab fokus dari pusat tim nasional percepatan penanggulangan kemiskinan di dalamnya termasuk stunting. Dan itu dilakukan dengan berbagai intervensi mulai dari penanganan bayinya, ibu hamil dan remaja yang memiliki keturunan.
Apalagi, angka stunting di Jatim presentasenya mencapai 26.2% dari PSG atau Pematauan Status Gizi. Namun hingga kini masih dilakukan perhitungan melalui riskesdas atau riset kesehatan dasar. Dan pendataan melalui kesehatan dasar dengan potensi dasar timbulnya penderita gizi buruk dan stuntingn pada balita, harus trnaspran dan mengedepankan kejujuran di atas segala-galanya. Sehingga bukan karena bagian strategi politik untuk meningkatkan anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) karena ada penderita gizi buruk dan stunting
Masalah penderita gizi buruk dan stunting di negara maju dbahkan negara modern juga ada, tetapi prosentase di bawa 0, (nol koma) sekian persen. Bahkan penanganannya secara khusus melalui program prioritas. Sementara di Jatim belum pernah dilakukan secara sungguh-sungguh dengan kampanye besar-besaran, sekaligus gerakan massal, dengan harapan seluruh lapisan masyarakat dapat melakukan perbaikan, serta secara gotong royong saling mengingatkan untuk menjaga program prioritas ini mencapai sukses.
Tentu saja, dengan hasil akhir Jatim mempu menekan penderita gizi buruk dan stunting pada balita, mungkin tinggal 0,5 persen atau di bawahnya, juga terus melakukan perbaikan gizi serta memberikan program prioritas asupan gizi yang benar. Kita tunggu melalui CETTAR, ibu Gubernur melakukan gerakan massal dengan kampanye besar-besaran melawan gizi buruk dan melawan stunting pada balita. InsyaAllah Jatim akan mengubah menuju kehidupan sehat dan normal, dengan penderita gizi buruk sangat kecil, termasuk stunting pada balita.(*)
.