Wawancara Khusus Dengan Komisaris Garuda Timbo Siahaan

Oleh : Ilham Bintang

Wawancara Khusus Dengan Komisaris Garuda Timbo Siahaan
Menteri BUMN Erick Tohir (kiri)

Wawancara Khusus Dengan Komisaris Garuda Timbo Siahaan

Identifikasi perkara 

Skandal Garuda ini menurut istilah dalam ungkapan orang Betawi, “ sudah kagak ketulungan kelewatannya”.
Setuju atau tidak, memang inilah skandal Garuda terbesar dan sangat memalukan. Penyelundupan moge dan sepeda mewah serta tas – tas branded itu sudah direncanakan lama, sekurangnya sejak Agustus lalu.

Diatur oleh seorang staf Garuda di Amsterdam. Rencana semula akan ditumpangkan dalam penerbangan reguler Garuda dari Amsterdam. Tapi Otoritas Garuda di sana menolak. Tidak berani. Lalu diusahakan menggunakan KLM, maskapai penerbangan Belanda. Tapi di sana juga ditolak. Akhirnya mengambil momentum penjemputan pesawat Garuda jenis baru Neo Air Bus 330-900. Dari Toulouse, Perancis, ke Jakarta. Semua barang – pesanan akhirnya dikirim ke Toulouse. Dan, terakhir berujung tersingkapnya kasus penyelundupan itu di Bandara Soekarno Hatta.

Penerbangan dari Toulouse – Jakarta mengangkut lebih duapuluh penumpang VVIP. Termasuk Dirut Garuda dan empat direksi lainnya dan isteri masing- masing. Otoritas tertinggi dalam penerbangan itu jelas adalah Dirut Garuda Ari Askhara.

Dari komposisi penumpang VVIP itu mudah diidentifikasi, “ Garuda 1” itulah yang memiliki otoritas tertinggi, paling bertanggung jawab. Walaupun pada awal-awal ada upaya mencoba mengalihkan itu menjadi tanggungjawab karyawan status biasa.

Situasi makin runyam ketika ketika Sekretaris Korporat Garuda mengatakan barang-barang itu atas nama staf. Garuda akan menanggung biaya masuk dan denda atas barang- barang tak bermanifes tersebut. Ini pernyataan bunuh diri.

Sebelum Erick Thohir turun tangan pun dengan mudah diidentifikasi keterlibatan “Garuda 1”. Apa pula urusannya Garuda harus menanggung biaya plus denda barang selundupan karyawan

Kotak Pandora

Pada kasus pengangkatan Ahok tempo hari kontroversial, kali ini langkah Menteri BUMN menangani kasus Garuda mendapat dukungan 100 persen rakyat Indonesia. Termasuk Serikat Pekerja Garuda. Apalagi langkah Erick memberi signal tidak hanya berhenti pada kasus Garuda. Tapi lebih luas untuk menyoroti seluruh BUMN. Bukan rahasia umum lagi ada kemiripan skandal Garuda dengan BUMN. Termasuk skandal asmara petingginya.

Langkah Erick sudah benar. Konstitusional. Jauh dari alasan personal. Pemilik group usaha Mahaka ini memulai dengan mengembalikan fungsi Dewan Komisaris menurut ketentuan. Termasuk wewenang pemberhentian sementara direksi Garuda dikembalikan kepada Dewan Komisaris. Sebelum diputuskan secara definitif nanti dalam RPUS-LB. Pada instansi itulan nanti pemecatan diputuskan secara definitif. Begitu juga pengangkata direksi dan komisaris baru. Begitu ketentuan dalam UU Persero.

Dekom Garuda sendiri sebelum mengambil keputusan dalam rapat dengan Menteri BUMN, terlebih dahulu meminta Komite Audit mengusut tuntas kasus penyelundupan itu. Hasilnya salah satu, mendasari putusan Dekom Garuda.

Belajar pada kasus Garuda sebelum ini, banyak penyelesaiannya tidak menempuh prosedur seperti itu. Ambil contoh kasus penyulapan pembukuan Garuda dari rugi menjadi untung. Dekom pun tak berdaya dalam kasus ini, mayoritas terpaksa setuju. Hanya satu yang menolak : Chairal Tanjung, justru yang mewakili pemegang saham. Itu bisa terjadi karena peran Menteri BUMN Rini Soemarno sangat mendominasi. Apa yang dimaui dan dikehendaki Menteri itulah yang mesti jalan. Aturan lain menyesuaikan. Alhasil tidak ada sanksi apapun dari BUMN atas pelanggaran yang dilakukan direksi. Padahal, sanksi denda atas pelanggaran itu dijatuhkan oleh banyak instansi di luar Garuda menyikapi itu. Kasus ini boleh Erick dalami lagi. Apa yang terjadi sebenarnya.

Di Garuda, Erick telah membuka kotak pandora yang melingkupi manajemen maskapai penerbangan plat merah itu. Tidak mustahil praktek itu terjadi di seluruh BUMN. Itu bisa ditelusuri bagaimana Menteri BUMN Rini Soemarno menikmati penumpukan seluruh kekuasaan dan kewenangan di satu tangan. Tangannya sendiri. Dari tangannya lahir pula banyak komisaris kaleng- kaleng, asal tunjuk dan dudukkan orang dianggap berjasa menurut penilaiannya. Di tangannya pula banyak komisaris dan direksi BUMN yang baik, dibuang begitu saja. Muhammad Said Didu salah satu korbannya.

Ayo Erick . Kita tunggu langkah besar Anda selanjutnya. Ewako! meminjam jargon supporter pendukung PSM Makassar.