Risma Apresiasi Aksi Kreatif Pangeran dan Putri Lingkungan 2019

Risma Apresiasi Aksi Kreatif Pangeran dan Putri Lingkungan 2019
Sebanyak 60 siswa Finalis Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup berkunjung ke rumah dinas Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Kehadiran mereka dalam rangkaian penyematan selempang Finalis Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup Surabaya 2019.

“Yang kalian lakukan ini luar biasa. Jauh melebihi dari kapasitas usia dan fisik kalian,” ujarnya memuji.

Risma menegaskan, bahwa apa yang dilakukan para pegiat lingkungan ini membantu menyelesaikan persoalan dunia, yakni Global Warming atau perubahan iklim. Untuk itu, dirinya menyampaikan rasa terima kasih sekaligus akan memberikan penghargaan.

“Saya harap, kalian tak berubah. Kalian tahu, kenapa saya rajin menanam pohon, karena pohon mengeluarkan oksigen yang dibutuhkan manusia, Maka, dengan begitu kita bisa menolong orang lain,” katanya.

Risma kembali mencontohkan, perlunya aksi lingkungan untuk mengatasi sampah. Menurutnya, jika tak diolah, sampah akan menjadi musuh paling besar. Oleh karenanya, ia berharap, para peserta mengajak keluarganya untuk menjaga kebersihan.

Risma juga menanyakan satu persatu produk serta aksi lingkungan yang telah dilakukan para peserta. Ni Nyoman Gayatri, siswa SMPN 6 Surabaya yang mengembangkan proyek lidah buaya di perumahan Wiguna Tengah dan Wiguna Timur memaparkan aksinya. Ia mengaku, disamping melakukan sosialisasi bagaimana pengelolaan, dan pembibitan lidah buaya. Dirinya juga mengembangkan kegiatan kewirausahaan dari tanaman lidah buaya, menjadi produk sabun, teh, shampo dan pupuk.

“Dengan kegiatan ini selain untuk penghijauan, juga meningkatkan ekonomi masyarakat,” sebutnya.

Dari aksi lingkungan yang digeluti selama hampir dua tahun ini, Gayatri mengaku telah mendapatkan keuntungan dari berbagai produk yang dijual secara langsung ke masyarakat maupun secara on line sekitar Rp3,5 juta.

Finalis lainnya, Mutiara Nurhapsari, siswa SDN Sawahan 4 memaparkan,hasil kerja inovatifnya berupa membuat pupuk dari kulit telur. Ia menyampaikan, alasan memiliki ide mendaur ulang sampah kulit telur, setelah melihat banyaknya pengusaha kuliner disekitar kampungnya.

“Di tempat saya, banyak pengusaha home industry kue. Saya manfaatkan kulit telur yang dibuang untuk pupuk,” jelasnya.

Mutiara mengatakan, proses pembuatan pupuk dari kulit telur tidaklah sulit. Kulit telur tinggal dicuci, dijelur kemudian diblender langsung bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman, tanpa campuran kimia apapun. Tak sekedar pupuk, dengan bahan dasar kulit telur juga bisa diolah kembali menjadi minuman kunyit asam, serta bumbu dapur. Selama setahun mendaur ulang kulit telur, siswa kelas 6 ini mengaku telah mendapatkan hasil penjualan produk sedikitnya Rp2 juta. (wt)