“Kalian bisa menciptakan kartun dari cerita sejarah yang dimiliki Indonesia untuk dijadikan kartun yang populer di era saat ini. Misalnya Princess Roro Kidul apik to (bagus kan),” katanya.
Kendati demikian, ia menyebut, potensi-potensi itu harus terus didorong agar bergerak. Namun, tidak hanya dalam bentuk film kartun. Tapi bisa bentuk iklan layanan masyarakat, ataupun iklan komersil juga bisa dikerjakan dari animasi ini.
“Karena yang semacam itu membuat orang tertarik dan ini merupakan kampanye baru yang bisa digunakan sebagai media mendidik anak-anak,” imbuhnya.
Ia menilai, hal ini akan mudah dilakukan jika tiap-tiap komunitas saling bersinergi. Misalkan, komunitas mural biasanya menggambar di bidang kosong seperti tembok. Dari media tembok kemudian bisa diterapkan ke elektronik. “Dari yang biasanya menggunakan bidang kosong ditumpahkan ke media eletronik, karena potensi itu harus dikembangkan,” terangnya.
Risma berharap, warga Kota Surabaya, khususnya kaum milenial mulai bergerak untuk mengisi potensi-potensi itu. Sehingga nantinya upaya-upaya yang dilakukan ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi mereka. “Saya berharap supaya mereka mampu berperan di negerinya sendiri dan tidak menjadi penonton saja,” ujarnya. (wt)





