“Jadi saya membangun perkotaan ini tidak asal. Saya membangun kota ini menggunakan teori psikologi perkotaan. Bagaimana taman ini bukan sekadar berdampak pada lingkungan saja, namun pada manusianya juga,” imbuhnya.
Menurutnya, taman-taman yang ada Surabaya dibangun karena ingin membentuk karakter manusia dari semua usia untuk berkumpul dan menjalin komunikasi. “Mangkanya seluruh taman di Surabaya diberi free wifi, agar mereka bisa belajar, atau pun membaca dengan ipad atau leptopnya,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur PT Telkomsel, Emma Sri Martini menjelaskan, pemilihan Kota Surabaya sebagai pelopor utama acara ini karena dinilai memiliki angka digital literasi tertinggi di Indonesia. Ia berharap dari peluncuran aplikasi ini, mampu menyebar dan memviralkan hingga ke seluruh pelosok negeri.
“Program ini ditujukan sebagai bentuk komitmen kami untuk berbagi untuk mendukung program pendidikan di Indonesia. Mengingat kondisi geografisnya di Indonesia terbagi dengan kepulauan dan susah untuk mengakses toko buku, ataupun perpustakaan umum,” kata Emma.
Makanya untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya menghadirkan aplikasi ini tidak berbayar dan dapat terjangkau di seluruh pelosok negeri. “Jadi baik pelajar, mahasiswa, atau masyarakat umum pun yang berada di mana saja dapat menikmati layananan kami,” katanya. (wt)





