Kerja Bakti Massal Hasilkan 23,5 Ton Sampah

Kerja Bakti Massal Hasilkan 23,5 Ton Sampah

Presiden UCLG Aspac ini juga menjelaskan tujuan dari penanaman pohon cemara udang ini untuk melindungi kota dari bencana dan juga sebagai antisipasi dari global warming. Ia pun sangat percaya bahwa pohon ini akan sangat membantu Surabaya kelak. “Saya percaya dari penanaman pohon ini suatu saat akan melindungi Surabaya dari berbagai bencana dan musibah,” paparnya.

Selain itu, pohon cemara udang ini dinilai tahan terhadap hempasan ombak dan hembasan angin. Oleh karena itu, ia berharap tidak perlu lagi mengeluh atau pun menyalahkan global warming. “Saya pikir kita tidak usah mengeluhkan global warming, tapi kita harus tangani. Ini juga komitmen penataan kawasan wisata, karena saat ini wisata alam  sudah dicari oleh masyarakat,” kata dia.

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro mengatakan dari delapan zona tersebut sampah yang paling banyak terkumpul dari zona satu, dua dan tiga dengan jumlah empat truk. Tiga zona tersebut dimulai dari wilayah Mangrove Tambak wedi – Jembatan Suramadu sisi barat dan timur. “Total yang terkumpul 23,5 ton terdiri dari 15 truk, 14 dump truk dan satu compactor,” kata dia.

Dia juga memastikan bahwa selalu rutin melakukan pembersihan setiap dua hari sekali. Selama ini, yang paling banyak ditemukan adalah sampah botol plastik. “Makanya, kita juga selalu mengaktifkan aparat-aparat wilayah setempat untuk turut menjaga kebersihan wilayah pantai ini,” ujar Hebi sapaan akrabnya.

Tidak hanya kebersihan, penanaman pohon cemara udang juga penting diperhatikan. Ia juga menjelaskan bahwa pohon cemara udang ini memiliki fase pertumbuhan cukup lama. Tapi setelah tumbuh, pohon ini akan mampu bertahan hidup puluhan tahun. “Ini bisa tahan hidup apapun kondisinya, termasuk air asin, itu tidak masalah,” katanya. (wt)