Dua pelangggaran yang dimaksud adalah ketika Alfath Fathier melakukan handsball di kotak terlarang. Serta pelanggaran M. Ridho terhadap Amido Balde yang diklaimnya terjadi di kotak penalti.
”Yang Amido satu meter setengah di dalam kotak (penalti). Yang hansdball, jelas-jelas kalau tidak handsball, (terjadi) gol,” ujarnya.
”Supaya saya tidak asal ngomong, tolong dicek kembali kebenaran omongan saya, tolong dicek lagi di telivisi rekamannya ada, baik yang Amido maupun yang handsball,” tegasnya.
Kecewa dengan keputusan wasit yang merugikan, Persebaya Surabaya berencana untuk menyiapkan nota protes.
“Saya sebenarnya setiap pertandingan itu selalu berpikiran positif kepada wasit, tapi untuk hari ini mohon maaf saya harus berpikiran buruk. Beberapa keuputusan wasit tidak bisa ditoleransi,” kata Manajer Persebaya Surabaya, Chandra Wahyudi.
Menurutnya, dari beberapa bukti rekaman yang dikantongi, pelanggaran itu terjadi di kotak penalti.
”Kita bisa debatable apakah itu tempatnya di kotak penalti atau enggak. Tapi dari beberapa rekaman yang muncul sekarang memang terlihat dia sudah ada di kotak penalti,” tegasnya.
Jika pelanggaran tersebut tidak layak mendapatkan hadiah penalty, lanjutnya, seharusnya wasit memberikan kartu merah kepada M. Ridho, karena pelanggarannya tergolong professional foul.
”Sebenarnya itu pelanggaran yang one on one dengan situasi peluang gol yang sangat besar. Jadi seharusnya bisa kartu merah,” ujarnya.
Meskipun protes yang dilayangkan oleh timnya tidak akan mengubah hasil pertandingan, lanjut Chandra, tapi dia ingin kejadian tersebut bisa menjadi pembelajaran bagi perbaikan sepak bola Indonesia.
”Minimal publik dan seluruh pecinta sepak bola Indonesia tahu seperti apa sepak bola kita dan apa yang harus diperbaiki dan sebagainya,” kata Chandra. (wt)





