Ngalih Ring Alihan (Aliyan)

Ngalih Ring Alihan (Aliyan)
Ilustrasi pejuang Aliyan dalam Perang Bayu. (Kent Ali for Warta Transparansi)

Karena pada jaman dahulu, kekuasaan selalu diwariskan turun temurun, maka Ki Kidang Garingsing alias Arya Girisena kemungkinan adalah cucu dari pembabat desa Alihan, Ki Wiradigdaya.

Berdasarkan data dan catatan tersebut, dapat dipastikan bahwa penduduk Alihan juga terlibat dalam Perang Bayu untuk mempertahankan kemerdekaan Balambangan dari serbuan tentara kompeni Belanda dan sekutunya.

Heroisme dan kegigihan rakyat Alihan melawan penjajah itulah menyebabkan penduduknya ikut dibantai oleh Belanda dan desanya termasuk yang dibumihanguskan oleh penjajah.

Lalu siapa yang membangkitkan kembali Alihan pasca pembumihangusan hingga menjadi seperti sediakala?. Dalam Suluk Balumbung disebutkan bahwa beberapa trah Bhumi Wongso yakni abdi dalem Keraton Lateng selamat dari perang di Nusabarong tahun 1777 dan kemudian kembali ke desa mereka.

Diantara mereka memakai nama ‘Wangsa’ pada namanya. Seperti Wangsataruna, Wangsakarya, Wangsamranggi, Wangsanyarawedi, Wangsagardji, Wangsangapus, Wangsargending, Wangsakenanga, dan sebagainya.

Apakah Buyut Wangsakenanga yang makamnya berada di Aliyan adalah orang yang sama dengan Ki Wangsakenanga, salah satu dari trah Bhumi Wangsa?.

Dugaan saya adalah demikian adanya. Dengan begitu, dapat diperkirakan bahwa Buyut Wangsakenanga atau Ki Wangsakenanga adalah orang yang membangkitkan kembali desa Alihan.

Karena saat dilakukan pendataan jumlah penduduk pada masa Residen Lodewijk Uittermoole, Desa Alihan telah berbenah dan telah seperti sediakala.

Orang luar desa menyebutnya Kulih Alihan atau Kulikalian. Sedangkan orang Alihan sendiri tetap menyebut desa mereka dengan nama Alihan yang kemudian kini dikenal sebagai Desa Aliyan.

Tentang bagaimana nasib Ki Kidang Garingsing, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Apakah beliau ikut gugur di medan laga, ataukah ikut tertangkap dan dibawa ke Teluk Pampang dan dibunuh disana, atau selamat dan ikut mengungsi ke Pulau Nusabarong.

Demikian pula tentang bagaimana nasib Buyut Wangsakenanga selanjutnya. Tidak ada yang tahu. Yang jelas, Alihan atau Aliyan atau Kulikalian menyimpan sejarah panjang perjuangan yang lengkap.

Sejak mulai dibangunnya Kutharaja Macanputih pada tahun 1655 hingga meredupnya wibawa Balambangan pada tahun 1774 usai Perang Bayu. Sah-sah saja jika kemudiaan rakyat Aliyan menyebut desanya sebagai Desa Banyuwangian (Banyuwangen) karena mereka memang menyimpan keluhuran sejarah yang utuh dan lengkap.

Dari tulisan singkat ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nama Aliyan berasal dari kata Alihan yang telah berdiri pada era Susuhunan Prabu Tawangalun II (1655-1691) yang bermakna ‘Pindah’ atau ‘Dipindahkan’. Yakni pindah dari Kutharaja lama di barat gunung ke Kutharaja baru di timur gunung yang dipimpin Ki Wiradigdaya atas perintah Susuhunan Prabu Tawangalun II.

Pada perang Bayu tahun 1771-1774, desa Alihan yang dipimpin oleh Ki Kidang Garingsing alias Arya Girisena juga turut berjuang bersama Mas Rempeg alias Pangeran Jagapati III dan pejuang yang lain, sehingga Aliyan termasuk desa yang dibumihanguskan oleh kompeni.

Setelah perang berakhir, Desa Alihan dibangun kembali oleh Ki Wangsakenanga atau Buyut Wangsakenanga sehingga saat Residen Lodewijk Uittermoole mengadakan pendataan jumlah penduduk di desa-desa bekas wilayah Kerajaan Balambangan sekitar tahun 1774-1784, maka Alihan sudah ‘Kembali seperti sediakala’ dan dicatat dengan sebutan Desa Kulihalian atau Kulikalian.

Desa Aliyan atau sebutan yang lain sudah berdiri sekitar 119 tahun sebelum lahirnya Kota Banyuwangi pada tahun 1774 atau 116 tahun sebelum peristiwa Perang Bayu pada tahun 1771. Umur Desa Aliyan sama dengan Kutharaja Macanputih yang didirikan antara tahun 1655-1661. Aliyan diperkirakan sudah ada sejak jaman keemasan kerajaan Balambangan, pada era kepemimpinan Susuhunan Prabu Tawangalun II (1655-1691).

Pendiri desa Aliyan bisa saja seperti dalam cerita rakyat, yakni Ki Wiradigdaya yang seorang pendatang dari barat. Sedangkan pendiri desa Kulihalian (Kulikalian) bisa jadi adalah Buyut Wangsakenanga (Ki Wangsakenanga) dari Trah Bhumi Wangsa, abdi dalem Keraton Lateng.

Semangat menyejahterakan rakyat seperti Ki Wiradigdaya dan spirit menjaga kedaulatan negara seperti yang dilakukan Ki Kidang Garingsing (Arya Girisena), serta spirit pembangunan seperti Ki Wangsakenanga (Buyut Wangsakenanga) itulah yang merupakan karakter asli penduduk Desa Aliyan dahulu dan diharapkan akan terus diwarisi oleh generasi penerusnya.

Oleh : M Hidayat Aji Wirabhumi. Pemerhati sejarah Blambangan
Ditulis di Keradenan, 6 September 2018 dan disampaikan dalam sarasehan sejarah “Ngalih ring Alihan”, di Kantor Desa Aliyan, 8 September 2018.