Namun, harga minyak bergerak lebih rendah karena pelaku pasar melihat pasar sebagai overbought.
“Reaksi awal pagi ini tampak berlebihan karena gangguan terhadap infrastruktur produksi di Teluk Meksiko tidak mungkin untuk mengekstrak sejumlah besar minyak mentah dari pasar,” kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan.
“Dampak badai yang lebih besar cenderung menurunkan aktivitas kilang-kilang di pesisir teluk yang bisa dipengaruhi oleh pemadaman listrik.”
Membebani harga minyak, persediaan minyak mentah di Cushing, Oklahoma, naik hampir 754.000 barel dari 24 Agustus hingga Jumat (31/8), kata para pedagang, mengutip laporan dari firma intelijen pasar Genscape.
Dikutip dari Antara Indeks dolar AS yang meningkat juga mendorong minyak mentah berjangka lebih rendah. Dolar AS yang lebih kuat membuat minyak yang dihargakan dalam greenback lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Pasar minyak global telah mengetat selama sebulan terakhir, mendorong harga Brent naik lebih dari 10 persen sejak pertengahan Agustus. Investor mengantisipasi berkurangnya pasokan dari Iran karena sanksi-sanksi AS terhadap Teheran mulai diterapkan.
Harry Tchilinguirian, ahli strategi minyak di BNP Paribas, memperingatkan “masalah pasokan” hingga 2019.
“Penurunan ekspor minyak mentah dari Iran karena sanksi-sanksi AS, penurunan produksi di Venezuela dan gangguan produksi di Libya tidak mungkin diimbangi sepenuhnya oleh kenaikan produksi OPEC+,” kata Tchilinguirian.(guh)