“Antara elektabilitas tokoh dengan program tipis sekali. Namun, program yang lebih dominan. Dominasi program Gus Ipul ternyata lebih kuat, karena mudah dipahami oleh masyarakat,” ujarnya.
Dia memberi contoh program Dik Dilan (Pendidikan Digratiskan Berkelanjutan) dan Pak Kardiman (Peluang Kerja di Mana-Mana) yang dimiliki Gus Ipul-Puti. Masyarakat ramai membicarakannya, karena banyak yang tidak tahu. Demikian pula dengan program lain, seperti pertanian, wisata dan tenaga kerja.
“Paling tidak orang ingin tahu Dik Dilan dan Pak Kardiman itu apa. Jadi, Gus ipul unggul di program yang dipersepsikan masyarakat. Perilaku pemilih dilihat dari jumlah masyarakat yang membaca menarik atau bukan terhadap program itu,” paparnya.
Meski unggul di program itu, bukan berarti Khofifah-Emil kalah di program lain. Berdasarkan surveinya, program infrastruktur dan ekspor Khofifah-Emil mengungguli Gus Ipul-Puti. Khofifah-Emil unggul 44 persen. Sedangkan Gus Ipul-Puti 42 persen.
“Yang imbang kesehatan, sama-sama 44,7 persen. Demikian pula bidang sosial dan pengentasan kemiskinan, karena programnya sama kuat dan menarik,” ungkapnya.
Dari program yang dipahami masyarakat itu, Andy menyebut Gus Ipul unggul di wilayah Tapal Kuda, Arek dan Mataraman. Sementara Khofifah menang di Madura da Mataraman pesisir.
“Kami melakukan survei dengan jumlah responden 835 orang di 38 Kabupaten/Kota. Jumlah sampel yang sama dengan BPS. Margin erornya 3,46 persen. Kami mengambil batas minimal sampel, sehingga hasilnya cukup akurat,” jelasnya.
Hal senada dikatakan Dosen Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Putu Aditya Ferdian Ariawantara. Menurutnya, etertarikan masyarakat terhadap program Gus Ipul-Puti, karena mudah dipahami. Salah satunya adalah Dik Dilan.
“Siapa sih yang tak kenal Dilan. Lha yang menarik bagaimana Gus Ipul-Puti memberikan pendidikan gratis SMA/SMK lewat program Dik Dilan. Sebagai pemilih tentunya akan melihat keunggulan dari Dik Dilan. Secara angka mungkin bisa berubah, tapi persepsi akan sulit berubah,” katanya.(min)





