SURABAYA, Wartatransparansi.com — Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Jawa Timur kembali menegaskan perannya sebagai salah satu lumbung atlet nasional. Tiga atlet asal Jatim resmi menjadi bagian dari skuad Indonesia yang akan bertanding pada ajang internasional di Thailand.
Mereka adalah Anjani Dwi Aprilia (Pasuruan) yang turun di nomor single, serta Bagas Syarif Hidayat dan Doni Wahyu Kribiantoro yang akan berlaga pada nomor triple. Selain itu, dua pelatih asal Jatim, yaitu Rofi dan Yogiswara Anugrah turut dipercaya mendampingi tim.
Ketua Umum FOPI Jawa Timur, Prof. Dwi Cahyo Kartiko, menyebut keikutsertaan lima wakil Jatim ini sebagai sebuah kebanggaan besar. Dari total 10 atlet yang diberangkatkan Indonesia, tiga di antaranya berasal dari Jawa Timur. Sementara dari empat pelatih nasional yang ditugaskan, dua merupakan pelatih daerah asal Jatim.
Menurut Prof. Dwi, persiapan atlet Jatim berlangsung jauh sebelum program Pelatnas resmi terbentuk. Meskipun pemerintah menetapkan durasi Pelatnas yang relatif singkat, FOPI Jatim telah memulai pembinaan lebih awal dengan memanfaatkan peringkat nasional para atlet sebagai tolok ukur kesiapan.
“Ketika PB FOPI mengeluarkan surat edaran terkait peluang menuju Pelatnas, kami langsung mempersiapkan nomor-nomor yang memungkinkan. Jadi sebelum kuota atlet diumumkan pemerintah, anak-anak sudah lebih dulu menjalani proses seleksi,” jelasnya.
Ketiga atlet Jatim ini juga merupakan peraih medali emas pada PON sebelumnya. Usai PON, mereka tidak berhenti berlatih dan terus menjaga ritme performa hingga akhirnya masuk skuad resmi menuju Thailand. Secara intens, persiapan Pelatnas berlangsung sekitar tiga bulan terakhir.
Terkait peluang meraih medali emas, Prof. Dwi menilai Indonesia memiliki kans besar. Meski Malaysia kerap menjadi lawan berat, ia justru menaruh perhatian lebih pada Thailand yang dikenal sebagai kekuatan dunia dalam cabang petanque.
“Thailand itu banyak juara dunianya. Tapi Alhamdulillah kemarin di Kejuaraan Asia di Malaysia, kita sempat mengalahkan juara dunia di semifinal dengan skor ketat. Final melawan Malaysia bahkan menang jauh. Artinya peluang kita sangat terbuka,” terangnya.
Salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah perubahan lokasi pertandingan dari Songkla ke Bangkok akibat banjir besar. Hal ini membuat tim harus kembali melakukan penyesuaian karakter lapangan dan kondisi cuaca.
“Teman-teman sudah pernah berlatih di Songkla, tapi Bangkok berbeda. Meski begitu, anak-anak sudah terbiasa menghadapi berbagai model lapangan. Kami berharap adaptasinya cepat dan mereka bisa tampil maksimal,” tambah Prof. Dwi.
Ia menegaskan bahwa seluruh atlet Jatim yang memperkuat Indonesia akan bertarung habis-habisan demi mempersembahkan medali terbaik bagi Merah-Putih.
“Intinya kami yakin. Anak-anak sudah siap dan akan memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” pungkasnya. (*)





