Malaikat akhirnya menjelaskan, saat Abdul Aziz Ad-Dhabag usia 15 tahun, ibundanya mendatangi kamarnya, ternyata Abdul Aziz Ad-Dhabag yang mendengar langkah tapak kaki ibunya bukan bangun pura-pura tidur. Melihat anaknya masih terlelap, maka rencana meminta tolong untuk belanja ke pasar dibatalkan.
Ternyata rasa kasihan dan iba seorang kasih sayang ibu yang dikelabui oleh anaknya, membuat Allah Azza wajalla Murka.
Dari penjelasan tersebut, Abdul Aziz Ad-Dhabag memutuskan untuk tidak berceramah, bertablik. Secara khusus dirinya selalu memohon ampun terus membaca istighfar kepada Allah SWT dan memohon maaf kepada ibunya. Hal itu selalu dilakukan saat ketemu tamu atau santrinya.
Pertanyaan sederhana bagaimana dengan kita yang hidup di zaman modern, generasi Z, yang sering mementingkan gadget daripada membantu atau patuh pada perintah orangtua.
Sebetulnya, salah satu solusi untuk tidak terbawa arus adalah Istiqomah dalam beribadah. Apalagi, puasa adalah ibadah istimewa bagi umat Baginda Rasulullah SAW. Sebagaimana dalam hadits qutsi, firman Allah SWT, “Tiap amal anak cucu Adam kembali kepadanya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.
Jadi, konsisten terhadap ridlo Allah SWT merupakan harga mati, sehingga amaliyah mahdlo dan ghoiro mahdlo dalam memperoleh Rahmat dan maghfirah Allah SWT. Termasuk memburu ridlo ibu dan orang tua.
Salah satu opsi, yaitu tuntunan dalam QS Ali Imron ayat 132-134, yaitu taat kepada Allah dan Rasulullah supaya dijadikan hamba yang beruntung.
Berikutnya, guna mendapatkan Rahmat dan hamba yang beruntung, yaitu segera memohon ampunan kepada Allah SWT yang disediakan surga yang luasnya bumi dan langit.
Tidak cukup hanya itu, yaitu tuntunan untuk menginfaqkan dalam keadaan lapang dan sempit, mampu mengendalikan diri dan memiliki jiwa pemaaf. Dan, menjadikan manusia yang bermanfaat bagi umat serta selalu berusaha berbuat baik.
Sekali lagi yang tak kalah penting, adalah memburu Ridlo Orangtua. Jangan sampai mereka murka, sehingga kita menjadi celaka. Semoga sebelas bulan berikutnya terus memacu kita untuk selalu sabar dan bersyukur. Minal Aidin wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin. (*)
*) Ketua Forum Pimred SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) Jawa Timur





