Selain mencegah banjir dan genangan menggunakan rumah pompa, sebelum memasuki musim penghujan pada akhir tahun mendatang, Wali Kota Eri telah mempersiapkan strategi lain, yakni dengan penandatanganan surat komitmen bersama seluruh RT, RW, LPMK, Camat, Lurah, serta jajaran Kepala PD di lingkungan Pemkot Surabaya. Di dalam surat komitmen tersebut, tercantum data wilayah perkampungan mana saja yang masih terjadi banjir dan genangan.
Setelah data-data tersebut diterima dan dilakukan penandatanganan, dia menyampaikan, maka pemkot akan membuatkan saluran air yang dibangun menggunakan anggaran dari DSDABM Kota Surabaya dan dana kelurahan (dakel). Setelah saluran air itu dibangun, dipastikan ketika hujan dapat menampung air lebih banyak dan tersalurkan lebih cepat menuju ke aliran sungai yang lebih besar.
“Semua kegiatan pembuatan saluran di perkampungan itu, harus selesai di tahun 2023, kalau dikerjakan di tahun 2024, maka harus selesai di Maret 2024,” paparnya.
Dalam peresmian tersebut, juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya Ikhsan, jajaran asisten, Kepala Perangkat Daerah (PD), lurah dan camat Jambangan. Tak hanya itu, RT, RW, dan LPMK se-Kecamatan Jambangan turut hadir menyaksikan peresmian tersebut.
Sementara itu, Ketua RW 4 Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Jambangan, Sogiran menyampaikan banyak terima kasih kepada Wali Kota Eri Cahyadi telah mendengarkan aspirasi warganya sehingga dibuatkan rumah pompa untuk mencegah banjir. “Terima kasih Pak Wali Kota, di kepemimpinan panjenengan bisa menyampaikan (aspirasi) melalui Pak Lurah, melalui Pak Camat, semoga banjir di wilayah Kecamatan Jambangan khususnya bebas,” kata Sogiran.
Sogiran berharap, rumah pompa yang telah dibangun oleh Pemkot Surabaya ini bisa dijaga bersama oleh seluruh pengurus RT, RW, dan warga di sekitar Kecamatan Jambangan. Dia juga mengimbau kepada warganya untuk saling menjaga dan mengingatkan, jika ada yang membuang sampah di sembarang tempat atau saluran air.
“Karena masih banyak di wilayah lain selalu ada yang membuang sampah, bahkan membuang kasur di saluran air. Makannya, kalau Pak Wali itu muring-muring (marah-marah) ya kita harus bisa menerima, selama menjadi pengurus RT maupun RW,” tandasnya.
Diketahui, sampai saat ini Kota Surabaya telah memiliki 72 rumah pompa yang difungsikan sebagai sarana penanganan banjir. Di tahun 2023, pemkot melalui DSDABM Kota Surabaya membangun rumah pompa lain di tujuh lokasi, diantaranya rumah pompa Bukit Barisan, rumah pompa Aquatic, rumah pompa Kebraon, rumah pompa Bulak, rumah pompa MERR, rumah pompa Gersikan, dan rumah pompa Undaan. (*)





