Selasa, 16 Agustus 2022
27 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiAgama dan Gagap Budaya

    Agama dan Gagap Budaya

    Oleh: Zahrul Azhar Asumta /Gus Hans 

    Agama lahir tidak dialam hampa dan kedap udara , agama lahir bertautan dengan segar dan pengabnya udara yang ada disekitarnya.

    Para pemeluk agama tidak sedikit tertarik dengan agamanya dikarenakan oleh sesuatu yang anomalis, mistis dan tidak logis, ada yang masuk agama tertentu Karena mimpi ketemu Si A dan Si B, ada juga yang masuk agama karena mengalami hal hal yang diluar nalar misalnya penyembuhan tangan ajaib sang pemuka agama.

    Sebagian dari mereka agama adalah sesuatu yang tidak pantas disejajarkan dengan hal hal yang sifathya “biasa biasa” saja, termasuk juga Kepada para tokoh tokohnya , mereka lebih merasa sreg jika melihat tokoh agamanya berpenampilan yang khas seusai didalam alam pikiran mereka; jubah yang berjumbai, berkalungkan tasbih yang besar atau dng simbol simbol keagamaan , kepala gundul plontos atau yang gondorong dan berjenggot panjang dan lebat ,dll.

    Agama dikesankan menjadi sesuatu yang terpisah dari kehidupan nyata, semakin aneh akan dianggap semakin meyakinkan. Bahkan dari bahasa dan lagu pun “memiliki agama” bagi orang orang yang gagap budaya sperti diatas .

    Saya menduga andaikan saja nabi Muhamad SAW terlahir di tanah Jawa bisa jadi baju “kebesaranya” adalah baju sorjan sederhana dengan pengikat kepala khas orang orang Jawa (blangkon ) seprti halnya orang orang pedesaan dizaman dulu . Jika sekarang nabi Muhamad dan juga para sahabat diidentikan selalu dengan jubah warna putih serta sorban dan imamah ( walau juga pernah diriwayatkan pernah berbaju warna merah ) dan sepatu dari kulit / khuf karena memang Nabi tinggal di tanah gersang dengan matahari yang sangat menyengat tentu warna putih adala warna yang pelinh tepat untuk menyerap panasnya sinar matahari dan menggunakan khuf karena belum ada sepatu sneakers Import dari Cina disaat itu.

    Agama lahir tidak bisa lepas dari budaya setempat dimana agama itu lahir, begitu juga Islam, Islam lahir tidak hanya dikhususkan untuk khalifah , suku dan bangsa tertentu saja , Islam hadir untuk memberikan pencerhaan kepada seluruh umat yang ada diseluruh antero bumi dng berbagai suku , budaya adat istiadat dan bahasa. Maka ketika kita belajar tentang Islam hal yang penting dilakukan adalah bisa membedakan mana yg ajaran agama dan mana yang hasil karsa dan karya budaya.

    Nabi Muhamad SAW lahir dan berkembang ditanah Arab maka sudah Sang nabi pun juga bertindak dan berperilaku, berpakaian dan melakukan kebiasaan kebiasaan seperti halnya apa yang terjadi dengan kaum nya disaat itu , karena Nabi ingin mengadirkan nilai nilai Islam tanpa harus merusak kultur budaya yang ada ( kecuali yang sudah jauh menyimpang dengan syariat Islam ). Maka seyogyanya kita sebagai umatnya juga mencontoh bagaimana Nabi Muhamad sangat menghargai budaya lokal dalam menyebabkan agama Islam.

    Nilai Islam itu universal bisa diterapkan dimana saja dan mestinya tidak ada yang boleh merasa paling Islam hanya karena kesukuan dan kebangsaan. Masih berkembangnya stereotip dan juga top or mind masyarakat yang tidak bisa membedakan mana agama dan mana budaya membuat seakan apapun yang berbau Arab adalah Islam, kegagapan budaya sepeti ini sempat memicu permaslahan ketika AGNES Monica menggunakan busana yang bertuliskan bahasa Arab , dan juga pernah terjadi perdebatan tentang penggunaan kata “assalamualaikum” yang diklaim hanya orang Islam yang berhak menggunakan kata tersebut, padahal di Inggris tidak sedikit orang non muslim penduduk asli sana yang menggunakan kata “ Insyaallah” untuk merujuk pada sesuatu yang akan kita lakukan tapi belum pasti.

    Produk gagap budaya juga sering kita lihat dalam komunitas Islam tradisional yang menganggap semua lagu lagu berbahasa Arab adalah lagu religius sehingga dibawakan dengan “sangat” Islam dan pelakunya akan mendapatkan pahala , beberapa waktu yang lalu sempat viral cover lagu ya tab tab yang dibawakan oleh sabyan padahal isi dari lagu tersebut ndak ada hubungannya sama sekali dengan keagamaan , begitu juga lagu Nawarti ayyami yang dipopulerkan oleh HELMY ABDELBAKY yang sebenarnya jauh dari kata islami .

    Memang tidaklah mudah untuk memberikan pemahaman bahwa kehadiran Islam itu tidak dalam rangka mencabut akar budaya lokal dengan membawa budaya yang baru dan asing disaat sebagian masyarakat masih bisa membedakan mana budaya dan mana agama terlebih ditambah dengan kebiasaan dari tidak sedikit diantara kita yang memyukai dan meyakini yang “aneh aneh” dari pada yg biasa biasa saja.

    Mari beragama dengan tetap menjunjung tinggi budaya lokal kita dan sedikit mau membuka diri untuk bisa terbuka dengan hal hal yang baru dengan menggunakan logika kita. Sehingga kita tidak gagap budaya yang suka menyalah nyalahkan budaya kita sendiri yang Adi luhung dan mengagungkan budaya orang lain dengan salah kaprah. (Penulis adalah Wakil Ketua ISNU JATIM, Ketua IA UPNVY dan Wakil rektor Unipdu Jombang)

    Reporter :

    Penulis : Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans)

    Editor :

    Redaktur :

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan