“Mungkin karena kondisi alam kita nyaman, sehingga seringkali kita itu kurang, wes ndak apa-apa ndak punya planning, ndak bisa seperti itu lagi. Jadi kita harus berpikir untuk mengantisipasi bagaimana ke depan,” jelasnya.
Kendati demikian, ia pun mencontohkan, misalnya awalnya UMK (Upah Minimum Kabupaten/kota) Surabaya Rp 3,8 juta, nantinya di tahun 2020 jika naik menjadi Rp 4,2 juta, maka akan ada selisih lebih Rp 400 ribu. Dari selisih uang itu, Risma berharap, bisa ditabung untuk pendidikan anak dan masa depan ketika pansiun.
“Jadi artinya kita berusaha harus mengantisipasi. Bagaimana jika begini, jika begini, jangan kemudian kita nyaman di kondisi saat ini, beli apa-apa tanpa kemudian memperhatikan ternyata rumah masih sewa,” ujarnya.
Makanya, ia kemudian meminta kepada masyarakat agar memikirkan masa depan itu. Menurutnya, dahulu banyak orang memandang negatif kenapa dia membangun saluran di bawah jalur pedestrian. Namun alhasil, setelah pembangunan itu rampung, ternyata saluran di bawah pedestrian itu mampu mengantisipasi banjir ketika hujan deras turun.
“Dulu orang bilang kenapa Risma bikin saluran seperti itu. Tapi coba kalau dulu saya tidak antisipasi dengan saluran, pasti sudah (tenggelam) kota ini,” katanya.
Ia menambahkan, dari pengalaman tersebut, banyak hal yang bisa diambil untuk dijadikan pelajaran, bahwa sangat perlu sebuah perencanaan untuk memikirkan ke depan. Salah satunya, untuk mengantisipasi hal-hal negatif yang tidak bisa diprediksi datangnya. (wt)





