Ia menyebut, tahun depan Indonesia menghadapi era perdagangan dunia. Era dimana semua produk dari seluruh dunia bisa masuk ke Indonesia. Serta sebaliknya, produk-produk Indonesia juga bisa masuk ke seluruh negara di dunia. “Tahun depan adalah era perdagangan dunia yang kita tidak bisa lagi menolak, kita tidak boleh bermalas-malasan. Karena itu ayo kita berusaha, ubah dunia ini, goncangkan dunia ini untuk kalian bisa berhasil dan sukses,” jelasnya.
Kendati demikian, ia mencontohkan, para pendahulu Surabaya dikenal sebagai pejuang yang tidak kenal menyerah. Dengan segala keterbatasan alat, mereka mampu mengusir para penjajah. Makanya, Risma berharap kepada para pemuda agar bisa mencontoh perjuangan para pendahulu Surabaya. “Buktikan kalian adalah anak-anak Surabaya yang mampu mempunyai kesejahteraan terbaik di dunia. Mari kita buktikan pada dunia, kita bisa sukses dan bisa berhasil,” katanya.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Surabaya, M. Afghani Wardhana menyampaikan, Jambore Pemuda merupakan program dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Tahun 2018, Jambore tingkat provinsi telah digelar di Sidoarjo dan tahun ini Surabaya menggelar untuk tingkat kota. “Tujuannya adalah bagaimana menumbuhkembangkan dan mendorong kreativitas pemuda, baik di bidang kewirausahaan maupun seni dan budaya,” kata Afghani.
Dalam event ini, ia menjelaskan, panitia telah menyiapkan stand-stand untuk menampilkan produk unggulan pemuda Surabaya. Peserta yang mencapai 200 itu, berasal dari para pemuda kreatif di 31 kecamatan Surabaya. Tak hanya itu, selain menampilkan produk-produk unggulan, nantinya mereka juga bakal menampilkan kreativitas di bidang seni budaya.
“Kreativitas mereka itu kita gali, mereka nanti akan menampilkan karya-karyanya dan yang juara akan kita kirim ke provinsi, begitu juga yang berhasil di tingkat provinsi akan dikirim ke tingkat nasional,” jelasnya.
Di sisi lain, Afghani menyebut, event ini juga sebagai langkah Pemkot Surabaya menyiapkan anak-anak muda dalam menghadapi perdagangan bebas global. Sebab, nantinya persaingan angkatan kerja begitu besar, di sisi lain kompetisinya bukan dengan teman, namun sudah skala global. “Karena itu masing-masing anak muda harus punya advantage, keunggulan di bidang kewirausahaan dan lain-lain,” ujarnya. (wt)





