Namun, untuk kemungkinan penambahan jadwal penerbangan di masa depan, Rahmat menyebut hal tersebut sangat bergantung pada kebijakan masing-masing maskapai berdasarkan analisis pasar. “Kalau terkait untuk penambahan lagi itu adalah kewenangan airline. Airline akan melihat mungkin visibilitasnya perlu apa enggak,” tambah Rahmat.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam melancarkan arus mudik, pengelola bandara juga memberikan kado khusus berupa keringanan biaya perjalanan. Insentif berupa potongan tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau airport tax resmi diberlakukan.
“Dari arahan pemerintah, kami sudah memberikan potongan airport tax dan subsidi dari bandara sendiri sudah memberikan mulai dari awal posko ini, kalau enggak salah 20 persen,” jelas Rahmat secara detail mengenai kebijakan tarif tersebut.
Di tengah kesiapan fasilitas, Rahmat menyelipkan pesan edukatif sekaligus cerita unik mengenai perilaku penumpang lokal. Ia mengimbau agar calon penumpang tetap menjaga kedisiplinan waktu keberangkatan dan tidak menyepelekan durasi check-in. Pasalnya, kedekatan lokasi bandara dengan tempat tinggal seringkali membuat penumpang terlena hingga akhirnya justru kehilangan jadwal terbang.
“Sudah tinggal di Kediri, masih ketinggalan pesawat. Karena kan pikir ah dekat ini, jadi ya santai-santai, ternyata ketinggalan pesawat. Hal-hal yang seperti itu biasanya,” pungkas Rahmat.
Untuk mengawal kelancaran aktivitas selama musim mudik, Bandara Dhoho telah menyiagakan Posko Lebaran yang beroperasi dari H-8 hingga H+10. Posko ini menjadi pusat koordinasi personel gabungan dari TNI, Polri, serta tim medis untuk memberikan respons cepat terhadap segala aduan maupun situasi darurat di area bandara. (*)





