Senin, 23 Mei 2022
28 C
Surabaya
More
    Politik PemerintahanPKB Tanpa PBNU Ibarat Anak Ayam Kehilangan Induk

    PKB Tanpa PBNU Ibarat Anak Ayam Kehilangan Induk

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Hubungan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) seharusnya meskipun jauh di mata tetapi dekat di hati. Hal itu disampaikan Pengamat Politik dari Surabaya Survei Center (SSC), Surokim Abdussalam mengomentari perseteruan kedua Ketua Umum di media massa.

    Menurutnya, jika benar-benar muncul perseteruan antara Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dengan Ketua Umum PBNU Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, justru akan sangat merugikan PKB. “PKB tanpa NU itu bisa diperibahasakan seperti anak ayam kehilangan induknya. Lha wong sebagian besar kader PKB itu isinya kader NU,” papar Dosen Universitas Trunojoyo Bangkalan ini, kepada media ini, Kamis (12/5/2022)

    Baca juga :  Sambut Baik Arahan Lepas Masker, Gubernur : Tidak Sekedar Menuju  Kehidupan  Normal Baru,Tetapi Juga  Menjadi Lebih Baik

    Dia menilai tidak ada gunanya dan tidak ada manfaatnya meruncingkan hubungan dan relasi PKB dengan PBNU saat ini. Menurutnya, akan lebih baik terlihat jauh di mata tetapi harus selalu dekat dihati. Semestinya, canda-canda politik seperti itu yang harus dilakukan oleh Ketua Umum PKB kepada Ketua Umum PBNU.

    “Misalnya, bahwa PBNU sekarang memberi perhatian yang lebih adil secara struktural kepada semua partai. PKB seharusnya tidak boleh kebakaran jenggot. Sebaliknya, justru harus pintar-pintar menjalin kebersamaan dengan warga Nahdliyin secara kultural. Ya itu tadi, ibarat keluarga jauh dimata tetap selalu dekat di hati,” ungkap Surokim.
    Dia menilai, jika terus begitu model komunikasinya Ketum PKB yang mengambil posisi face to face dengan PBNU, yang rugi PKB itu sendiri. “Saya pikir yang dilakukan Gus Yahya dan PBNU juga bagian dari cara mendewasakan PKB,” tambahnya.

    Baca juga :  Bayu Airlangga Pastikan Gabung Partai Golkar

    PKB lanjut Surokim bisa saja ekspansi terhadap modal pendukungnya. Nahdliyin harus dijaga dan dipelihara dengan cara elegan dan tawadlu serta menjaga adab sebagai ciri khas partai warga Nahdliyin. Jangan membuka front dan posisi face to face. Nanti malah menjadi tidak empati. Bagaimanapun PBNU sebagai representasi organisasi warga Nahdliyin akan lebih dihormati oleh warga Nahdliyin.

    Jadi PKB seharusnya lebih banyak mengembangkan strategi political transfer device dari PBNU daripada membuka front seolah meniadakan peran PBNU di PKB.

    Menurutnya, PKB tanpa NU jelas hal yang mustahil dan ahistoris. Atau dalam bahasa yang pas ya harus selalu rukun dan guyup. Apalagi pembagian kerjanya juga sudah jelas. Sehingga tidak boleh ada ikhtiar meniadakan. (sr/min)

    Reporter : Samuel Ruung
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan