Sabtu, 13 Agustus 2022
24 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaPemkot Cairkan Jaspel Pendidik TPQ dan Sekolah Minggu se-Surabaya

    Pemkot Cairkan Jaspel Pendidik TPQ dan Sekolah Minggu se-Surabaya

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Pemkot Surabaya telah mencairkan jasa pelayanan (Jaspel) 10.477 pendidik TPQ dan sekolah Minggu se-Kota Surabaya.

    Penyerahan jaspel dilakukan secara simbolis oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat acara pengarahan tenaga pendidik keagamaan (TPQ dan sekolah Minggu) se-Surabaya di Balai Kota, Kamis (21/4/2022).

    Pada kesempatan itu, Eri mengatakan bahwa para pendidik TPQ dan sekolah Minggu diberikan jaspel atau apresiasi sebesar Rp500 ribu perbulan. Khusus kali ini, Pemkot Surabaya mencairkan jaspel selama tiga bulan sekaligus, yaitu bulan Januari, Februari, dan Maret.

    “Jadi, 3 bulan ini belum dicairkan dan saya minta untuk dicairkan bulan ini semuanya, tapi ke depannya saya minta dicairkan tiap bulan, sembari Kemenag dan pemkot melakukan evaluasi, apakah ada perubahan-perubahan di masing-masing TPQ dan sekolah minggu itu,” kata Eri.

    Menurutnya, pemberian apresiasi atau jaspel ini berasal dari APBD Surabaya yang dibagikan untuk seluruh guru agama. Bagi dia, ini penting karena ingin mencari berkahnya.

    Baca juga :  Gandeng Ormas MKGR, DPD Pengajian Al Hidayah Jatim Gelar Donor Darah

    “Apalagi, saya sudah meminta tadi sebelum memulai pengajaran dan sesudah pengajaran untuk mendokan Kota Surabaya. Jadi, karena ini pakai APBD Surabaya, ya tolong didoakan Surabaya,” ujarnya.

    Di samping itu, jelas Eri, anak didik ini pasti calon pemimpin bangsa. Makanya, ia ingin semua agama membangun karakter anak-anak bangsa, selain dari karakter kebangsaan, ada karakter keagamaan juga.

    “Nah, ketika pemimpin sudah berlandaskan agama, maka secara otomatis dia akan selalu untuk kepentingan umat, tidak untuk kepentingan pribadi,” katanya.

    Untuk itu, dari agama Islam TPQ maupun sekolah minggu, ada juga Budha dan Hindu dan agama lainnya bersama-sama membentuk karakter anak-anak ini menyesuaikan ajaran agama masing-masing, sehingga dia bisa menerjemahkan keagamaannya itu ke dalam kehidupan sehari-hari. “Dengan cara itu, insya Allah akan membuat Surabaya adem,” tukasnya.

    Baca juga :  Dandan Omah MBR di Surabaya Sudah Capai 300 Unit

    Ia berpesan kepada pendidik TPQ dan sekolah minggu untuk tidak hanya menghafalkan Al-Quran. Namun, dia juga ingin anak-anak itu bisa mengamalkan isi di dalam Al-Quran itu.

    “Akan jadi bimbang ketika dia sudah hafal surat-surat tapi tidak tahu maksudnya, sehingga dalam menerjemahkan ke kehidupan mereka tidak akan bisa. Berbeda jika dia sudah hafal dan mengerti maksudnya, maka dia bisa mengamalkan ilmunya itu di dunia nyata,” katanya.

    Eri meyakini, jika ini sudah berjalan dengan semua agama di dalamnya, maka Kota Surabaya akan menjadi kota yang baldatun thoyyibatun warobbun ghafur, kota yang aman dan damai.

    “Saya minta tolong kepada njenengan semuanya Bapak-Ibu, saya titip betul Kota Surabaya ini,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Pendidikan Al-Quran (FKPQ) Indonesia di Kota Surabaya M. Alfan Nabhan menyampaikan apresiasi kepada Pemkot Surabaya, terutama Wali Kota Eri atas kebijakan memberikan insentif kepada guru ngaji ini. Tentunya, ini sangat berharga bagi para guru ngaji dan guru sekolah minggu.

    Baca juga :  Dinas Sosial Terima Bantuan Tongkat untuk Warga Surabaya

    “Dari sekian kabupaten atau kota di Jawa Timur, memang apresiasi yang diberikan oleh Pemkot Surabaya ini sangat luar biasa dan sangat menghargai kami. Terimakasih support dan atensinya Pak Eri,” kata Alfan.

    Ia juga mengapresiasi tantangan yang diberikan oleh Wali Kota kepada para guru TPQ dan guru sekolah minggu, yaitu membuat anak didiknya mengerti dengan kitab yang dipelajarinya. Menurutnya, tantangan ini akan membuat lembaga-lembaga pengajaran itu berbenah, baik dari segi metode pendidikannya maupun administrasi lembaganya, sehingga hasil kinerja atau pembelajaran yang diberikan akan semakin bermanfaat bagi anak didiknya.

    “Jadi, ini sebuah tantangan bagi kami, pendidik tidak hanya mengenalkan huruf Al-Quran dan bisa mengaji, tapi harus bisa mengimplikasikan dalam suatu perbuatan yang berakhlakul karimah secara qurani,” tandasnya. **

    Reporter : Wetly

    Penulis :

    Editor:

    Redaktur :

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan