Minggu, 17 Oktober 2021
26 C
Surabaya
More
    OlahragaDedengkot Sepakbola Surabaya Muhammad Barmen Berpulang

    Dedengkot Sepakbola Surabaya Muhammad Barmen Berpulang

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Innalillahi wa innailaihi roji’un, telah pulang ke rahmatullah tokoh sepakbola Surabaya dan nasional, pemimpin tertinggi klub legendaris Assyabaab Surabaya, Haji Muhammad Bin Salim Barmen, Selasa (17/8/2021) sekitar pukul 10:00 di rumah duka Jl KH Mas Masyur 120 Surabaya.

    Haji Muhammad Bin Salim Barmen kembali ke rahmatullah pada usia 86 tahun (6 Juni 1935 – 17 Agustus 2021). Almarhum populer dipanggil “Bang Moh” kemudian setelah menunaikan ibadah haji populer dengan panggilan “Aba Moh”. Di dunia sepakbola merupakan dedengkot sepakbola Surabaya dan nasional.

    Dedengkot menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah orang yang menjadi tokoh (pemimpin) dalam suatu perkumpulan dan sebagainya, baik dalam arti yang baik maupun yang buruk.

    Aba Moh telah berpulang meninggalkan dunia sepakbola dengan hiruk pikuk dan pernyataan tegas dan kontrovesial sangat piawi. Bahkan selalu mewarnai berita-berita hangat antara tahun 1980 – hingga tahun 2005 di Persebaya, dan perkembangan sepakbola nasional sebelum akhirnya mengambil jalan tidak mendukung ketidakadilan pelaksanaan kompetisi internal Persebaya karena dianggap merampas hak Assyabaab.

    Baca juga :  Kontingen Jatim Klaster Merauke Juara Umum PON XX Papua 2021

    Aba Moh terkenal dengan pernyataan kontroversial dengan mempopulerkan pertandingan sepakbola sudah diatur “P4 Kompak”, istilah ini muncul ketika zaman Orde Baru dan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) masih menjadi semacam kewajiban setiap warga negar mengikuti penataran ketika itu, seperti syarat vaksin pada mas pandemi Covid-19 saat ini.

    P4 di dunia sepakbola khusus di stadion Tambaksari Gelora 10 November Surabaya dan lapangan Karanggayam (lapangan Persebaya), yaitu Pemain, Pelatih, Pengadil, dan Pejudi Kompak. Istilah ini sangat populer ketika pertandingan
    mencederai “fair play”.

    Aba Moh terkenal dengan “puasa komentar” ketika memasuki bulan suci Ramadhan, sehingga pernyataan tegas dan blak-blakan yang biasa ditunggu-tunggu wartawan tidak keluar dari dedengkot sepakbola Surabaya dan nasional ini.

    Baca juga :  Gulat Tambah 1 Emas dan 1 Perak

    Nama Moh Barmen kondang sejak membawa Assyabaab (amatir) pada awal tahun 1980 final klub amatir bertemu dengan klub Jayakarta Jakarta. Bahkan sejak itu kedekatan almarhum Aba Moh dengan tokoh sepakbola nasional dan pemilik Klub Arseto tidak disangsikan lagi.

    Dari tangan dingin almarhum melahirkan sejumlah pemain hebat seperti Moh Sofie, Hamid Asnan, Hartono, Harmadi, Subangkit, Aries Sianyakit, Yongki Kartanya, (almarhum) Salim Barmen, Yusuf Money, M. Syafi’i, Nahji, Putut Widjanarko, dan sejumlah pemain nasional.

    Aba Moh sudah menghabiskan waktu sebagai pegawai negeri (ASN, sekarang) di Departemen Keuangan atau Kantor Pajak, kemudian menekuni usaha dagang kain di rumahnya.

    Semangatnya tidak pernah luntur dalam membina sepakbola hingga akhir hayat. Selalu kritis dan blak-blakan sehingga komentar Aba Moh selalu menjadi judul halaman olahraga.

    Baca juga :  Estafet 4×100 Meter Putra-Putri Raih Emas dan Perak

    Dunia sepakbola Surabaya dan nasional, kehilangan dedengkot sejati sepakbola dengan motivasi luar biasa. Rasanya sulit mencari sosok tang siap berkorban waktu, tenaga, pikiran dan dana, seperti almarhum.

    Dunia sepakbola nasional kehilangan tokoh dengan begitu piawi tetap teguh pendirian dan membina sepakbola dari kampung Arab Ampel, membina Assyabaab dengan pemain tanpa memandang suku, ras, dan agama. Sebuah khazanah serta identitas kemajemukan cukup mahal dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dalam berbangsa, bernegara, berolahraga, dan beragama. Selamat jalan Aba Moh, insyaAllah tetap menimang-nimang bola di surga. (*)

    Reporter :
    Penulis : Djoko Tetuko
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan