Selasa, 3 Agustus 2021
30 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaGus Hans Prihatin, 600 Ulama Wafat di Masa Pandemi Covid-19

    Gus Hans Prihatin, 600 Ulama Wafat di Masa Pandemi Covid-19

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Kyai Muda sekaligus pengasuh ponpes (Pondok Pesantren Queen Darul Ulum Jombang  Zahrul Azhar As’ad atau Gus Hans mengaku sangat prihatin dengan kondisi pandemi Covid-19 yang saat ini terus menghantui masyarakat baik di tanah air maupun dunia. Karena itulah, perlu ada tindakan ekstra ketat dari pemerintah dalam upaya penanggulangannya.

    Hal itu diungkapkan oleh Gus Hans, Rabu (7/7/2021). Menurutnya data yang diterima, sepanjang pandemi Covid-19 sejak Februari 2020 hingga 30 Juni 2021, Pasukan Serbaguna Nahdlatul Ulama (Panser NU) mencatat sebanyak 600 ulama wafat. “Saya sangat prihatin dengan kondisi yang ada. Saya selalu mengatakan, ketika kematian sudah tidak bisa lagi mengingatkan kita sebagai nasihat, maka kira-kira dengan cara apa lagi?,” ungkapnya.

    Baca juga :  Surabaya Kota Layak Anak 2021, Penghargaan Keempat Kategori Utama

    “Allah telah memberikan petunjuk kepada kita semuanya, betapa orang-orang yang alim, tokoh-tokoh ulama yang kita ikuti petuah-petuahnya kapundut (wafat) lebih dahulu, dan menjadi ancaman bagi masa depan moral bangsa kita,” sambungnya.

    Di luar ratusan ulama yang wafat, lonjakan kasus Covid-19 di berbagai daerah juga semakin miris. Di Jatim, misalnya. Dari data Satgas Covid-19 Jatim, terdapat tambahan kasus baru sebanyak 1.468 atau kumulatif kasus terkonfirmasi positif menjadi 178.725.

    Karena itu, dalam instagram miliknya, menurut Gus Hans, perlu ada tindakan khusus dan ekstra dari pihak pemerintah, bahkan situasi ini tidak lagi main-main. “Mohon tidak memanfaatkan momentum Covid-19 ini hanya sekadar mencari panggung, dan dimanfaatkan untuk momentum kursi-kursi yang lebih tinggi lagi. Fokus kepada penyelesaian masalah,” ungkapnya.

    Baca juga :  Pangkoarmada II dan Forkopimda Jatim Tinjau Vaksinasi Massal di Gelora Pancasila

    Bagaimana caranya? Menurut Gus Hans melalui dua pendekatan. Pertama, pendekatan sosial dengan cara kemanusiaan serta silaturahmi kepada tokoh-tokoh masyarakat. Kedua, law enforcement dengan menegakkan hukum terhadap pelanggar-pelanggar protokol kesehatan (prokes) yang ada.

    “Kalau dua (pendekatan) itu dilakukan, insyaallah masyarakat akan tertib. Selama ini, bisa jadi, masyarakat tidak tertib gara-gara tidak adanya penekanan kekuatan hukum yang ditetapkan oleh pemerintah kepada masyarakat,” ucap Gus Hans yang juga Dewan Penasehat Gerakan Pemuda Anshor Jawa Timur itu.

    “Seakan-akan, justru kekuatan hukum ini hanya menjadi alat politik saja untuk menjerat orang-orang yang tidak diinginkan pemerintah. Ini enggak boleh dalam pikiran masyarakat terjadi seperti itu,” tandasnya. (*)

    Reporter : Samuel Ruung
    Penulis :
    Editor : Amin Istighfarin
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Editor's Choice

    Jangan Lewatkan