Selasa, 21 September 2021
26 C
Surabaya
More
    Politik PemerintahanAda Distorsi Sejarah Islam Nusantara tentang Sunan Kudus

    Ada Distorsi Sejarah Islam Nusantara tentang Sunan Kudus

    JAKARTA (WartaTransparansi.com) – Ada distorsi sejarah Islam Nusantara pada buku pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas VI. Distorsi menyebut, Sunan Kudus sebagai syiah keenam. Begitu Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih.

    “Kami khawatir adanya distorsi sejarah Islam di nusantara yang sengaja dibelokkan, menimbulkan narasi dan perdebatan yang tidak jelas dan melukai umat Islam,” kata Fikri dalam rilisnya dikutip parlementaria, Minggu (6/6/2021).

    Ia mendesak Perpustakaan Nasional RI berkontribusi menghadirkan literatur sejarah yang otentik untuk meluruskan kesimpangsiuran informasi yang tengah marak, sehingga dapat menjadi referensi sejarah yang akurat dan valid.

    Sejauh ini tidak ada klaim atau referensi yang menyebut Sunan Kudus berpaham syiah, jelasnya. Menurut Fikri, klaim Sunan Kudus syiah timbul dari narasi tentang sosok muhajir (Ahmad bin Al-Muhajir) ulama yang lahir di Palestina dan sebagai nasab pendahulu para Wali Songo di tanah Jawa yang penganut syiah.

    Baca juga :  Plh Sekdaprov Heru Tekankan Soal Dedikasi, Integritas dan Loyalitas

    “Klaim ini telah dibantah dibanyak referensi kitab terkenal, seperti kitab Nasim Hajir, kitab Samum Naji, dan kitab Jana Samarikh Min Jawab Asilah Fi at-Tarikh yang mengungkap sosok Muhajir,” urai Fikri lagi.

    Namun, sayangnya referensi-referensi penting dan otentik semacam ini tidak mudah dijumpai. Padahal, itu menjadi tugas pokok Perpusnas. Dalam UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, Pasal 36 butir g disebutkan; “Pemerintah bertanggung jawab memfasilitasi penerbitan buku langka dan naskah kuno yang bernilai sejarah serta mempunyai nilai penting bagi bangsa dan negara,” imbuh Fikri.

    Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyerukan, Perpusnas RI tampil mengisi kekosongan referensi-referensi sejarah islam di Nusantara.

    Baca juga :  Jatim Masuk Level 1, Anak Usia 12 Tahun Dilarang Masuk Mall dan Wisata Air

    “Perpusnas RI semestinya bisa bekerja sama dengan pesantren untuk membuat referensi sejarah awal mula syiar islam di Nusantara,” harapnya.

    Fikri juga mengungkap hilangnya sosok pahlawan nasional yang juga pendiri Nahdatul Ulama, K.H. Hayim Asyari dalam kamus sejarah yang diterbitkan Kemendikbud.

    Referensi sejarah tersebut nantinya bisa menjadi handbook atau ensiklopedia yang bisa diakses secara luas. “Jangan sampai kita kalah dengan negara lain, seperti Afrika Selatan, misalnya. Di sana ada literatur yang lengkap mengenai Syekh Yusuf, putera asli Makassar yang dihormati dan penyebar Islam utama di bagian selatan Afrika itu,” imbuh legislator dapil Jawa Tengah IX ini .

    Fikri percaya, jika digarap dengan baik, referensi-referensi tersebut kelak dapat menjadi rujukan terpercaya dalam diskusi-diskusi sejarah.

    Baca juga :  Plh Sekdaprov Heru Tekankan Soal Dedikasi, Integritas dan Loyalitas

    “Saat ini informasi di mana-mana, tetapi banyak juga yang hoaks. Perpusnas sangat penting posisinya dalam menjadikan masyarakat well educated, tidak hanya well informed,” tutupnya. ***

    Reporter :
    Penulis :
    Editor : Wetly Aljufri
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan