Selasa, 22 Juni 2021
27 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiPernak Pernik Pemudik Mensiasati“Larangan Mudik”

    Pernak Pernik Pemudik Mensiasati“Larangan Mudik”

    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi WartaTransparansi

    Suasana puncak pernak pernik pemudik Hari Raya Idul Fitri tergambar jelas sejak subuh dari jalan kilometer 0 hingga perbatasan dengan daerah Jawa Tengah antara Cirebon dan Brebes.

    Wartawan WartaTransparansi.com ketika mengamati perjalanan pemudik dengan siasat menghindari tanggal larangan mudik (6-17 Mei 2021), nampak puluhan mobil membanjiri ruas jalan tol Jakarta-Surabaya dengan bergerombol 4-5 kendaraan rombongan.

    Kemudian di test area atau tepi jalan memungkinkan untuk berhenti, maka mereka ramai-ramai berhenti dengan pernak pernik pemudik begitu asyik dengan model lama atau model zaman now.

    Pertama, ada mobil dibuka pintu belakang kemudian sebagian menggelar tikar istirahat sejenak. Bahkan di antara rombongan sudah ada yang membatalkan puasa.

    Kedua, ada yang sengaja makan dan minum serta sholat. Ketiga, mengisi bahan bakar minyak disertai istirahat juga mendinginkan mesin kendaraan bermotor.

    “Ya mereka lakukan sebagai musafir punya hak untuk membatalkan puasa, atau disunahkan tidak puasa,” kata pengamat kebijakan publik Ahmad Riyadh UB P.hD, Rabu (5/5/2021).

    Menurut Riyadh, dapat memastikan alasan untuk mensiasati larangan pemerintah untuk tidak mudik bermacam-macam. Tetapi kekuatan sikaturrahmi paling utama pada saat Hari Raya Idul Fitri seperti saat ini.

    Oleh karena itu, menurut Doktor lulusan Univeristas Utara Malaysia ini, sepanjang para pemudik bisa menjaga protokol kesehatan dengan ketat dan mematuhi dengan baik, maka harus ada kebijakan publik dari para pejabat terkait supaya menjadikan suasana tetap terjaga aman dan nyaman.

    Sebab, lanjut dia, acara mudik dengan membawa berbagai bekal untuk oleh-oleh di kampung sulit dihindari. Apalagi sekarang ini kan masa pandemi Covid-19 bersyarat.

    “Jadi masyarakat wajib tetap mematuhi kebijakan pemerintah soal PPKM Beskala Mikro, mematuhi Prokes dengan 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan bersih, menjaga jarak) dengan menghindari kerukunan juga membatasi kegiatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan mengumpulan massa dalam jumlah besar,” tandasnya.

    Jika membandingkan ruas jalan tol Jakarta-Surabaya, pada awal Covid-19 tahun 2020 juga bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri 1441 H atau tahun 2020, saat itu sangat sepi bahkan tidak ada aktivitas di perjalanan.

    Maka, pemandangan Rabu kemarin, potret kehidupan normal kembali nampak sekali. Bahwa dampak dari mudik bersiasat ini akan menimbulkan kluster baru atau tidak, maka wajib menunggu hasil pemantauan dari pemerintah bersama Satgas Covid-19.

    Yang pasti, rata-rata pemudik berusaha datang sampai kampung halaman sebelum diberlakukan penyekatan antardaerah kabupaten/kota juga antarprovinsi. “Intinya para pemudik rata-rata sudah tidak bisa menahan keinginan pulang kampung dan tetap menjaga protokol kesehatan maupun memenuhi ketentuan pemerintah,” ujarnya.

    Inilah potret mudik di masa pandemi Covid-19. Pernak pernik pemudik tergambar jelas sudah rindu kampung halaman, sudah yakin bahwa niat baik tidak akan menimbulkan penyebaran Covid-19, dan karena niat silaturrahmi akan membawa berkah karena semakin banyak rejeki dan panjang umur.

    Tetapi, tidak jarang perantau di ibukota Jakarta atau daerah sekitar walaupun bukan Aparat Sipil Negera (ASN) mengaku memilih tidak mudik karena daripada harus berurusan dengan petugas di jalan.

    “Saya memilih tetap di Jakarta saja, menyelesaikan pekerjaan dan menunggu sampai suasana sudah nyaman untuk pulang kampung,” kata Reza asal Malang.

    Menurut dia, jika memaksa mudik bisa saja, apalagi tidak ancaman sanksi dari kantor dan pekerjaan juga bisa dikondisikan. Tetapi karena sama-sama menjaga untuk memutus mata rantai Covid-19, maka memilih tidak mudik.

    Catatan ringan pojok transparansi ini, memfokuskan bahwa masih ada pemudik di antara larangan mudik dari pemerintah. Tetapi rata-rata tetap menjaga protokol kesehatan dan menilai “mudik lebih sakral dari virus Corona”. Semoga situasi dan kondisi seperti ini tetap membawa suasana kebatinan para pemudik sesuai niatnya, baik dan baik.

    Dan pilihan mendukung program pemerintah tidak mudik, juga sangat baik. Karena sudah dibeberkan panjang lebar kemungkinan terjelek jika terjadi kerumunan. Apalagi juga sudah ditemukan varian baru virus Covid-19 dari Inggris, India, dan Afsel masuk ke Indonesia.

    Pernak pernik pemudik dalam mensiasati larangan mudik, juga kekuatan silaturrahmi serta keyakinan bahwa hormat dan menghormati orangtua segala-galanya, menjadi pekerja rumah bersama. Tentu saja dengan harapan semua tetap baik, terutama menjaga kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

    Ahmad Riyadh bahkan menegaskan bahwa kekuatan silaturrahmi itu sangat dahsyat, sehingga ke depan jika masih ada kebijakan publik seperti tahun ini larangan mudik, maka sifatnya bukan larangan tapi pembatasan bersyarat. Sehingga tidak terkesan masyarakat melawan pemerintah, tetapi karena kebutuhan dan menghidupkan roda ekonomi dan membangkitkan organ-organ di masyarakat yang terpapar sejak kasus terinfeksi Covid-19 masuk Indonesia, dengan mengatur jadwal mudik. (*)

    Reporter :
    Penulis : Djoko Tetuko
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan