Selasa, 22 Juni 2021
25 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiKomodifikasi Agama

    Komodifikasi Agama

    Oleh : HM.Zahrul Azhar As, S.IP, M.kes

    Kata komodifikasi memang tak sepopuler kemersialisasi tapi saya lebih memilih kata ini karena saya pernah mengalami dicap sebagai pelaku komodifikasi ini,

    Di waktu senggang saya iseng plus ditambah jiwa kenarsisan saya yang meronta- ronta searching nama saya dan nama produk yang saya “bintang iklani”, keluarlah sebuah disertasi (atau tesis, Sy lupa) dari mahasiswi perguruan tingginya negeri yang membahas khusus tentang iklan yang saya bintangi, judulnya agak serem : komodifikasi agama dalam iklan produk minuman ……..( kurang lebih seperti itu).

    Didalamnya secara detail meneliti detik demi detik gerakan dan kata yang ditafsirkan sendiri oleh pembuat disertasi yang intinya adalah iklan yang saya perankan adalah bentuk dari komodifikasi agama.

    Saya tidak memiliki hak jawab dan saya pun membiarkan saja karena saya anggap ini sebagai khazanah ilmu pengetahuan dalam dunia akademis.

    Setahu saya iklan saya terebut sama sekali tidak ada “ancaman atau janji” antara surga dan neraka serta dosa dan pahala atau sah dan tidaknya ibadah tersebut jika menggunakan produk yang saya bawakan, tapi hanya menyampaikan bahwa jika saya menggunakan itu , itu saja.

    Dan justru di akhir iklan penekanannya justru pada ajakan melakukan ibadah tersebut . Tetapi dalam penelitian tersebut menggunakan kata sakti “ mempengaruhi alam sadar “ untuk menggunakan produk tersebut , ya sudah lah .

    Iklan tersebut tayang dihampir seluruh media nasional setiap hari lebih dari sepuluh kali tayang setahun lebih, ngalah ngalahi presiden atau hanya sekedar gubenur dari sisi durasi dan repetasi dalam tingkat kenongolan di TV heee. Hingga saya sempat diundang mengisi acara di komunitas pengamal ibadah tersbut di sebuah propinsi di Sumatra ( Sy lupa mana) yang dihadiri oleh gubenur nya yang mantan Artis.

    Akhir akhir ini ada kasus komodifikasi agama yang sedang ramai dan menurut saya jauuhhhh berbeda dengan apa yang saya alami.

    Modifikais atau kemersialisaos yang sedang gencar ramai dibicarakan ini memang secara vulgar dan verbal menyebutkan keterkaitan dng agama tertentu dan kelompok tertentu hingga mengkaitkan dengan pahala dan surga dari para tokoh yang terlibat.

    Semangat dan tujuan nya jelas bukan pada keunggulan produk tapi lebih kepada “ekonomi identitas” buah dari gerakan politik identitas yang justru akan mengecilkan para mereka sendiri.

    Mungkin mereka lupa bahwa masyarakat lebih suka mendapatkan telor ayam sekrang daripada ayam tapi besok dan itupun belum pasti (Didunia dapat telor atau setelah meninggal dijanjikan dapat ayam). Para penggiat gerakan ini lebih cenderung mengikuti mimpi mimpinya dengan berharap bisa “memainkan” keimanan konsumennya yang mayoritas sebagai captive market dan loyal market.

    Masyarakat sudah cerdas mana yang ada kaitannya langsung dengan keagamaan dan mana yang menggunakan agama sebagai “wasilah” untuk kepentingan lain.

    Jika kita bisa dan Arif dalam membedakan antara “wasilah” dan “GHOYAH” maka kita tidak akan berbuat senaif itu.

    Ketikan kita yakin bahwa “GHOYAH” ( tujuan utama ) kita adalah ALLOH SWT dan organisasi atau bahkan agama adalah Hanya “WASILAH” (perantara) saja , maka kita tidak akan sibuk dengan simbol simbol wasilah tanpa mengindahkan sunatullah.

    Sunatullahnya berbisnis sukses adalah ; giat , jujur , harga kompetitif , menjaga reputasi , pelayanan yang ramah dan pandai membangun netwrok yang bisa mendatangkan pemodal, jika semua diatas dilakukan (mungkin ada yang lain) maka insy usaha akan dilancarkan dan masyarakat pun akan memilih untuk bermitra dengan kita tanpa harus menjual issue issue ketuhanan.

    Sudah terlalu banyak kasus penipuan , saham bodong, ketidak amanahan pengelola yang melibatkan nama agama , dan masih bnyak pula orang orang bukan hanya 2 atau 12 orang yang jadi korban tapi bahkan ribuan dan terus berulang.

    Saya yakin para korban adalah orang Orang yang memiliki GHIRROH keberagamaan yang sangat tinggi tapi mungkin sedang kupa bahwa hukum Sunnatulloh itu berlaku kepada semua manusia bukan hanya kepada yang beriman saja.

    Mari luruskan niat jangan sampai kita salah meletakan mana WASILAH mana GHOYAH dalam beragama dan berbangsa.

    Ketahuilah setiap orang bisa membuat label syari atau halal atau thoyib tapi tidak semua yang terlabel tersebut diniati dan dimiliki oleh orang yang faham syari, halal apalagi thoyib. (*)

    *) Penulis adalah Wanhat IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Jatim

    Reporter :
    Penulis : HM.Zahrul Azhar As, S.IP, M.kes
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan