Selasa, 22 Juni 2021
31 C
Surabaya
More
    Tajuk"Budaya Mudik" Vs "Larangan Mudik"

    “Budaya Mudik” Vs “Larangan Mudik”

    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

     

    Tradisi mudik memang dahsyat, walaupun istilah mudik berasal dari bahasa Jawa (balik, kembali, red) atau lebih populer pulang kampung, bagi perantauan tetapi secara nasional aktifitas mudik sudah menjadi budaya begitu kuat mengakar.

    Budaya mudik terbukti ketika pemerintah mengeluarkan larangan mudik dengan tetap taat dan mandeg di tempat alias tidak pulang kampung, juga mengurangi kegiatan masyarakat agar tidak berkerumun atau melakukan menggumpulan massa dalam jumlah besar. Justru siasat mudik diskenario dalam berbagai gelombang dan model baru.

    Tetapi budaya mudik dengan penguatan sebagai silaturrahmi dan tanda bukti bakti anak kepada kedua orang tua atau saudara lebih tua, maka budaya pulang kampung semakin menguat karena perpaduan antara ajaran agama supaya Birrul walidain (patuh kepada kedua orang tua), juga silaturrahmi dapat menambah rejeki dan umur, serta saling memaafkan setelah ibadah puasa wajib di bulan suci Ramadan, diyakini sangat strategis sebagai penguatan ibadah.

    Apalagi tradisi pulang kampung atau mudik sudah mendarahdaging, bahkan menjadi semacam kewajiban bagi perantauan atau siapa saja ketika bekerja di kota. Sementara orang tua dan saudara banyak tinggal di desa atau perkampungan.

    Salah satu kelemahan bahwa pemerintah melalui Kemendagri, Kemen PAN RB, Satgas Covid-19 ketika menyampaikan bahaya mudik berkaitan dengan peningkatan kasus terinfeksi Covid-19 saat pengalaman libur panjang 4 kali selama masa pandemi, tidak mengumumkan dengan rinci, rigit, dan, detail, sehingga ancaman memutus mata rantai virus Corona, belum mampu membendung aksi mudik dengan siasat. Menghindari perjalanan tanggal 6-17 Mei 2021, dengan model berbeda-beda tetapi tetap satu jiwa, pulang ke desa.

    Hal beda jika pengalaman kasus terinfeksi Covid-19 selama 4 kali libur panjang diumumkan dengan jelas dan tegas, termasuk sebab-sebabnya. Misal, karena kerumunan dan panularan karena kegiatan massal masyarakat dengan rinci, rigit dan detail, maka kemungkinan larangan mudik tidak dilawan dengan budaya mudik.

    Rabu (5/5/2021), Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo dengan penuh kesungguhan mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan mudik. Masyarakat dimintanya menahan diri untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

    Seluruh pihak baik di pusat, di daerah, sampai dengan di tingkat desa, dan kelurahan mari bekerja keras untuk mengingatkan masyarakat jangan mudik, jangan mudik, jangan mudik. Mari bersabar menahan diri karena kalau ini dibiarkan maka sangat pasti terjadi penularan oleh mereka yang datang dari luar di kampung halaman.

    Yang pasti, di lapangan, di jalan, di kampung, sekarang telah terjadi sebuah kenyataan “budaya mudik” versus “larangan mudik”, tentu saja dilakukan masyarakat bukan dari kalangan ASN, TNI, Polri dan pejabat terkait dengan peraturan sangat ketat dan ancaman sanksi.

    Masyarakat perkampungan atau pedesaan, merasa bahwa mudik tidak apa-apa dalam hal ancaman virus corona,
    . Bahkan tetap menyatakan secara bersama-sama melawan Corona.

    Sehingga pemudik dengan tanpa merasa melakukan kesalahan mensiati larangan mudik mulai Kamis (6/5/2021) besok dengan pulang kampung lebih awal. Inilah potret “Budaya Mudik versus Larangan Mudik”.

    Tentu tidak ada pemenang seperti semifinal Liga Champions sudah mengantarkan Manchester City ke final setelah mengalahkan calon juara PSG agregat 4-1 (2-1 dan 2-0), dan menunggu hasil leg kedua Real Madrid versus Chelsea. Tetapi penanganan secara profesional, proporsional dan penuh sungguh-sungguh, menjadi kunci.

    Penanganan larangan mudik secara profesional, bukan sekedar operasi penyekatan atau bentuk operasi lain dengan maksud dan tujuan yang sama. Tetapi mendata jumlah pemudik dan jumlah taat tidak mudik, juga pengaruh mudik terhadap penyebaran Covid-19, dan taat tidak mudik dengan kesehatan dan keselamatan masyarakatbterjaga dengan baik tercatat dengan baik, itulah harapan bersama melawan Coronavirus Disease 2019 dengan profesional, proporsional, penuh kesungguhan tanpa campur tangan kebijakan politik atau berbagai aroma kurang sedap dalam bisnis vaksin atau terkait duka dunia ini bersama virus Corona.

    Mari bersama-sama mematuhi seruan pemerintah dan Satgas Covid-19 nasional, taat tidak mudik. Tapi mari membantu warga yang terlanjur mudik, senantiasa mengingatkan untuk menjaga Prokes dengan 3M Plus. Paling tidak selama menikmati silaturrahmi.

    Tidak mudah memang melarang pemudik dengan keyakinan sebagai ibadah dan termasuk usaha melawan Covid-19, tidak mudah juga pemerintah dengan segala upaya melarang mudik supaya kesehatan dan keselamatan warga terjaga.

    “Budaya Mudik” lawan (versus/vs) “Larangan Mudik”, sama-sama sebuah kenyataan pada Hari Raya Idul Fitri 1442 H, kebenaran adalah kebenaran, kesalahan adalah kesalahan, dan keyakinan adalah kemenangan. Mari saling memaafkan dan memanjatkan doa supaya bangsa dan negara tetap aman dan nyaman, tanpa gangguan dan halangan apa pun.

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan