Selasa, 22 Juni 2021
31 C
Surabaya
More
    Renungan PagiOTW Lailatul Qadar

    OTW Lailatul Qadar

    Kajian Ramadhan, Diasuh Univ. Darul Ulum Jombang (23)

    Gus Dr. Mudjib Mustain SH.MSi
    (Dosen Pascasarjana Undar)

    Alhamdulillah, setiap sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, kita selalu bertemu dengan malam ganjil. Sering kita dengar adagium kehebatan dan keutamaan malam lailatul qadr.

    Banyak kita dengar para alim mengajak kita untuk i’tikaf, uzlah, solat malam, istighosah maupun berdoa apa saja di masjid, dengan tujuan mendapat ampunan dan mendapat bonus lailatul qadr. Bonus itu bermacam-macam diantaranya memohon pada Allah agar takdir muallaq yang tidak baik, bisa berubah menjadi baik, takdir yang berat dapat berubah menjadi ringan. Bahkan yang berat karena banyak dosa dan salah menjadi ringan hisab, ujungnya dapat pengampunan dosa, masuk surga.

    Malam Yang Sempit
    Diceritakan dari Aisyah, Rasulullah bersabda :“Carilah oleh kalian keutamaan Lailatul qadr (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”. Aisyah ra juga menambahkan bahwa , “ketika Kanjeng Nabi Muhammad saw memasuki sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadlan, beliau  mengencangkan ikat  perutnya, menghidupkan malamnya,  dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Lailatul qadr adalah malam yang baik dan memiliki banyak keutamaan. Di malam sepuluh terakhir di setiap bulan ramadhan, betapa Rasulullah yang cinta dan sayang ummatnya, selalu memberi uswah agar kita bahagia lahir batin, menikmati malam-malam sepuluh terujung di bulan Ramadhan dengan menekan pedal gas ibadah lebih laju.

    Kita, bisa dengan mudah menemukan di literatur, tentang makna lailatul qadr. Namun, Setidaknya, ada tiga makna sederhana lailatul qadr. Pertama, Qadr artinya kemuliaan derajat, atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Lailatul qadr menjadi malam yang mulia karena fa’il dan fi’il pelaku dan apa yang dilakukan. Orang yang melakukan ibadah pada malam ini dengan niat ihlas harus yakin pada Allah akan ditempatkan menjadi orang yang mulia.

    Artinya
    Karena malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.(Al-Qadr:3)
    Malam kemuliaan itu lebih baik ketimbang seribu bulan. Ibadah pada malam itu mempunyai nilai yang sangat tinggi di mata Allah.

    Hanya dengan melakukan ibadah, entah i’tikaf, solat atau istighosah di masjid sepuluh hari saja, bahkan meski hanya lima malam diambil malam-malam ganjil, pahalanya lebih tinggi daripada ibadah biasa, selama seribu bulan.

    Asbabun Nuzul ayat 3 ini, Mujahid ra menegaskan, bahwa pada zaman Bani Israel, ada seorang laki-laki yang tekun beribadah di malam hari dan berjuang meluhurkan agama Allah di siang hari selama seribu bulan. Oleh karena itu, Allah menurunkan ketiga ayat ini sebagai keutamaan bagi ummat Muhammad Rasullulah saw, agar mereka beramal soleh seperti lelaki Bani Israel itu. (HR. Ibnu Jahir. Dalam Hatta, Ahmad.

    2010:598 )
    Kedua, Qadr berarti juga bisa bermakna sempit. Disebut lailatul qadr bermakna sempit karena bumi yang kita lihat berwujud luas ini, menjadi sempit karena diturunkannya malaikat Jibril dan para malaikat lain untuk mencatat semua urusan manusia di seluruh bumi.

    Artinya:
    “Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan”. (Al-Qadr:4)
    Ketiga, Qadr berarti ketentuan Allah dalam kehidupan manusia. Inilah malam ketika Allah menentukan takdir semua peristiwa dalam tahun tersebut, hidup atau mati, suka atau duka, tenang, damai atau gegeran dan lain-lain yang selalu berpasangan. Dalam pasangan itu bisa serasi atau berseberangan.

    Artinya
    “Dan, segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”(Adz-Dariyat:49)

    Lailatul Qadr Sukses
    Ada tanda lailatul qadr sukses kalau germis, kabut tipis menyaput sepertiga malam, hening beberapa saat. Ibnu Abbas ra berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Lailatul Qadr adalah malam tenteram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah.”

    Cahaya mentari redup menjadi tanda Qadr dan hal ini sesuai hadits Nabi yang menginformasikan ciri malam Qadr adalah bila ada cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya. Ubay bin Ka’ab ra, menyatakan bahwasanya Rasulullah bersabda. “Keesokan hari Lailatul Qadr matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan.” (HR. Muslim).

    Setiap hari setelah laitul qadr berlalu matahari dengan ihlas dan istiqomah terbit, sambal berharap orang yang semalam melakukan ibadah lailatul qadr hari ini menjadi cerah, bersinar dan menyinari. Bahagia dan membahagiakan. Sehingga bergairah aktif melakukan kebaikan untuk orang lain.

    Lailatul qadr disebut sukes juga dapat ditandai dengan upaya yang bersifat aktif, bukan pasif dari setiap Muslim menjadi lebih baik. Bahkan ikhtiar kebaikan itu sejatinya dapat diusahakan sejak awal Ramadan. Pertama, Al-Qur’an menyatakan, bahwa di saat lailatul qadr, Malaikat akan turun mengunjungi setiap orang yang ada di bumi ini. Dengan ijin Allah, malaikat Jibril dan malaikat yang lain turun ke bumi untuk mengatur segala urusan manusia, tentu urusan yang baik lebih disukai. Dan, malaikat sungguh senang dengan manusia yang mau melakukan kebaikan. Apalagi kebaikan yang dilakukan terus-menerus meski lailatul qadr sudah rampung.

    Lalu, kebaikan yang seperti apa yang harus dilakukan? Ya, Semua kebaikan harus terus menerus dilakukan meski berbuat baik kadang terkait dengan kesempatan dan waktu. Artinya, manusia jangan menunda kebaikan, apalagi ketika orang lain sangat membutuhkan bantuan dan kebaikan tersebut saat itu juga. Di situlah malam kemuliaan akan datang kepada manusia yang malaikat juga turut datang kepadanya.

    Kedua, di malam Lailatul qadr ada kedamaian sampai fajar. Artinya, damai dengan diri sendiri dan damai dengan orang lain.

    Damai itu ada damai aktif dan damai pasif. Misal ketika manusia naik bus, banyak orang di bus, lalu hanya duduk diam, tidak menyapa samping kiri dan samping kanannya. Hal itu termasuk damai, tetapi damai pasif. Lain halnya dengan damai aktif yaitu ketika saling menyapa atau memberi sesuatu kepada orang lain dengan tujuan yang baik. Hal ini juga berlaku bahwa ketika manusia tidak bisa memuji orang lain, tidak perlu memakinya.

    Jika tidak bisa memberi sesuatu kepada orang lain, jangan lalu mengambil haknya. Kalau tidak bisa membantunya, jangan menjerumuskannya. Ini prinsip kedamaian yang dapat mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin. Di saat itulah manusia mendapat malam kemuliaan, yaitu malam lailatul qadr (Quraish Shihab. 1996)
    Malam yang Menjadikan Sempat
    Memang, Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.

    Lalu apakah hanya berlaku sampai terbit fajar? Tentu tidak, Seseorang yang sudah berharap mendapat lailatul qadr, maka dia seharusnya, memiliki latifatul qolbi yaitu hati yang lembut.

    Sehingga, ketaatannya dalam beribadah dan berbuat kebaikan terus meningkat lebih baik. Dan, yang pasti nasibnya akan berubah disebabkan karena doanya diijabah oleh Allah.

    Kita sebagai manusia wilayahnya adalah ihtiar maksimal soal diijabah atau tidak sama Allah, kita harus yakin bahwa doa kita, permintaan kita pasti tercatat dan Allah pirso. Ada yang bertanya-tanya kalau sudah berdoa lalu tercatat kenapa tidak segera diijabahi. Kita harus yakin kalau kita sedih Allah pirso, kalau kita mendapat musibah Allah pirso, kalaupun belum diijabahi kita lepas dari kesusahan itu karena Allah tahu kita masih mampu mengatasi masalah yang sedang kita hadapi. Sisi lain, meski sedang menghadapi masalah apapun kita harus tetap berusaha berbuat baik, tanpa pamrih.

    Allah memerintahkan kita berbuat baik meski susah, sebenarnya, seolah-olah Dia mengingatkan kepada kita akan keaslian diri kita sendiri. Kecenderungan nature kita sendiri. Dengan kata lain berbuat baik adalah manusiawi, demikianlah Dia sebenarnya menghendaki. Seharusnya kita sadar bahwa perintah berbuat baik meski kita sesulit apapun tidak untuk buat Allah tapi buat kita sendiri.

    Fushilat:46

    Artinya:
    Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.
    Setelah hanya beberapa malam kita mengharap berkah lailatul qadr, kesempatan menemuinya lagi butuh tiga ratus enam puluh lima hari lagi. Sepuluh hari yang sempit menjadikan kita berbuat baik dengan rentang yang luas dan banyak kesempatan. Berbuat kebaikan untuk orang lain agar kita menjadi golongan aktif, golongan kanan tidak perlu ditunda. Selama kita berlatih setiap saat kita bisa melakukan kebaikan, tinggal kita kuat niat apa tidak. Niat itu penting, hanya dengan niat perbuatan kita akan mendapat balasan, niat buruk dapat dosa, niat baik dapat pahala. Hanya dengan niat yang baik kepada setiap orang, setidaknya, kita sudah melatih diri kita sendiri menjadi baik.

    Khotimah
    Tidak usah terlalu ngotot, bahkan berlebihan kalau i’tikaf kita, solat kita, istighosah kita saat lailatul qadr kita diterima Allah apa tidak. Hasil laitul qadr sudah ditunggu di bulan-bulan berikutnya, sampai hari kiamat. Dalam sebuah hadits Qudsi dinyatakan bahwa: Baginda Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman pada hari kiamat: Wahai putra Adam, Aku sakit, maka mengapa engkau tidak mengunjung-Ku?
    Dia berkata; “Wahai Tuhan, bagaimana aku mengunjungi-Mu sedang Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam?
    Allah berfriman;” Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku Si Anu sakit, sehingga engkau tidak mengunjunginya?

    Tidakkah engkau mengetahui bahwa seandainya engkau mengunjungi niscaya engkau akan menemukan Aku di sana?
    Wahai putera Adam. Aku meminta makan darimu tapi engkau tidak member-Ku makan,
    Dia berkata;” Bagaimana aku memberi-Mu makan, sedang Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam? Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku Si Anu telah memintamu agar diberi makanan, sedang engkau tidak memberinya makan? Tidakkah engkau mengetahui bahwa seandainya engkau memberinya makan niscaya engkau akan mendapatkan itu (ganjanrannya) di sisi-Ku?

    Wahai putera Adam. Aku minta diberi minum tapi engkau tidak member-Ku minuman,
    Dia berkata;” Bagaimana aku memberi-Mu minum, sedang Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam? Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku Si Anu meminta diberi minum, sedang engkau tidak memberinya minum? Tidakkah engkau mengetahui bahwa seandainya engkau memberinya minum niscaya engkau akan mendapatkan itu (ganjanrannya) di sisi-Ku?
    (HR. Muslim melalui Abu Hurairah)
    Mengaktifkan tombol berkah agar lailatul qadr still on, meskti malam-malan sudah rampung, tidaklah rumit. Solat kita, i’tikaf kita, istighosah kita dan wirid kita insyaallah sudah bagus dan benar karena Lillahi Ta’ala. Dan, yakin mendapat pahala dari Allah. Tapi, semua yang kita lakukan sungguh angkuh, egois, bahkan cenderung masih off, karena bertemu Gustialah mengandalkan pahala hanya di masjid saat lailatul qadr. Malam-malam lain, hari-hari lain masih ada dan memiliki kemuliaan. Dan, ingatlah, dalam keadaan bagaimanapun Gustialah dapat ditemui di mana saja dan selalu siap diuji kebenarannya setiap hari, setiap malam. Maka, setelah laitul qadr berlalu, sekarang dan saat inilah kita harus bisa di dunia ini mejadi akhirat kita Lillahi Ta’ala. Bertemu Gustiallah karena dari Gustialah. Sehingga tidak perlu menunggu kapan saat hari itu datang. Alhamdulillah, akhirat we’re on the way. Waalohu A’lam. (*)

    Reporter :
    Penulis : Gus Dr. Mudjib Mustain SH.MSi
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    Untukmu Para Istri…

    Wahai Para Istri…

    Rahasia Kebahagiaan

    Amanah