Jumat, 14 Juni 2024
29 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaGubernur Khofifah Ingatkan Waspada  Bahaya  Hidrometeorologi

    Gubernur Khofifah Ingatkan Waspada  Bahaya  Hidrometeorologi

    SURABAYA (Wartatransparansi.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bahaya hidrometeorologi jelang puncak musim penghujan, Desember 2020 – Maret 2021 mendatang.

    “Bahaya tersebut dapat berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor maupun angin kencang,” ungkap Khofifah saat Apel Siaga Darurat Bencana di Makodam V Brawijaya, Senin (23/11/2020).

    Khofifah mengatakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin merilis peringatan dini untuk mewaspadai hujan dengan  intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir.

    Peringatan dini ini, menurut Khofifah hendaknya menjadi semacam alarm bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kesiap-siagaan dan kewaspadaan.

    “Terutama bagi yang bertempat tinggal di wilayah-wilayah yang rawan bencana. Pastikan mitigasi bencananya kompregensif,” ujarnya.

    Baca juga :  Curanmor Makin Marak di Surabaya, Pemkot Cari Solusi

    Khofifah menyebut, sedikitnya terdapat 22 daerah di Jatim yang rawan terjadi bencana hidrometeorologi. Adapun kawasan rawan banjir umumnya didominasi oleh luapan sungai di sekitarnya, seperti Sungai Bengawan Solo yang luapannya bisa membanjiri wilayah Bojonegoro, Magetan, Madiun, Lamongan, Gresik, Ngawi, dan Tuban. Kemudian potensi banjir akibat luapan sungai Berantas, yakni Malang Raya, Kediri, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Probolinggo, Surabaya, Bondowoso, Lumajang, Banyuwangi, dan Jember.

    Sedangkan di Pasuruan, banjir berpotensi diakibatkan oleh luapan sungai Welang. Demikian juga di Madura, beberapa daerah biasa terdampak luapan Sungai Kemuning. Bencana hidrometeorologi yang lain adalah longsor, yakni harus diwaspadai wilayah Jombang, Ponorogo, Kediri, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Malang, Batu, dan Pacitan.

    Baca juga :  Setiap Tahun, Warga Surabaya Digelontor Rp500 M untuk Berobat Gratis

    Jatim menjadi salah satu provinsi yang  secara geografis serta geologis  memiliki kerentanan terhadap bencana, baik alam maupun non alam.

    Maka dari itu, penanganan bencana harus dilakukan dengan bersinergi dan kolaborasi antar lini, mulai pemerintah  provinsi, kota, kabupaten , kampus, swasta , media serta  masyarakat. Prinsipnya pendekatan pentahelix disinergikan,” tuturnya.

    Dengan memperkuat pentahelix menjadi bagian penguatan bersama dalam mengantisipasi bencana alam dan non alam diharapkan dampak  terhadap resiko bencana dapat diminimalisir,” tambah Khofifah.

    Khofifah mewanti-wanti kepada pemangku kepentingan di seluruh Kabupaten/Kota untuk melakukan mitigasi dan menyiapkan sejumlah skenario penanganan bencana. Hal ini penting karena jika bencana alam ini diantisipasi dan tidak tertangani dengan baik maka akan berpotensi pada meningkatnya angka kemiskinan di Jatim. Setiap bencana beresiko terhadap tambahnya kemiskinan.

    Baca juga :  1 Rumah 1 Sarjana, Pengamat: Keseriusan Pemkot Surabaya Bantu Peningkatan Kualitas SDM

    “Pemulihan dampak sosial dan ekonomi  karena pandemi Covid-19 sedang dilakukan recovery secara bersama- sama.  Upaya tersebut jangan sampai tersendat karena adanya potensi  bencana hidrometeorologi. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk meminimalisir dampak bencana yang dapat ditimbulkan,” pungkasnya.  (min)

    Reporter : Amin Istighfarin

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan