SURABAYA – Kehadiran seorang anak di kehidupan tak hanya menjadi pelengkap. Mereka merupakan investasi masa depan yang harus dilindungi. Menyongsong era Bonus Demografi, anak-anak adalah aset bangsa dan komponen masyakarat yang terpenting. Pada Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini, UNICEF kembali menekankan bahwa pelaksanaan Hak Anak harus dilakukan secara kolektif.
Hal ini terlihat secara simbolik pada Peringatan Hari Anak Nasional di Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo. Puluhan anak berkumpul Selasa (23/7/2019), untuk mengikuti peluncuran komik Anti-Bullying karya Rizka Raisa Fatimah Ramli dari Makassar, Sulawesi Selatan. Anak-anak Sekolah Dasar (SD) tersebut mengikuti lomba mewarnai yang difasilitasi oleh PT Angkasa Pura (persero). Puluhan anak-anak terlihat asik mewarnai ditengah-tengah lalu-lalang penumpang Terminal 2 Bandara Juanda disekitar mereka.
“Ini bukti bahwa semua pihak berkolaborasi memberikan kegembiraan pada anak,” terang Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara.
Menurutnya, UNICEF, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Kota Sidoarjo, Angkasa Pura, dan masyakarat serta para orang tua hari ini mempersembahkan bandara yang “ramah anak”.
Arie berharap Peringatan HAN yang digelar setiap 23 Juli diharapkan bisa lebih menyayangi dan memperhatikan anak-anak di sekitar kita.
“Sehingga anak-anak harus dipastikan sehat, pintar, girang, hidup aman, memperoleh hak-haknya dengan baik,” terang Arie.
Ia melanjutkan, dalam rangka melaksanakan Hak Anak, ada dua tugas pokok yang dapat dipikul bersama berbagai pihak.
Pertama adalah kemauan dan kemampuan para pihak di dalam sistem pemerintahan untuk menyediakan pelayanan dan perlindungan dasar pada semua anak dengan total dan sempurna.
“Misalnya, imunisasi harus sukses, PAUD harus bisa menampung banyak anak, sekolah banyak yang inklusif, taman bermain bebas asap rokok, angka kejahatan kecil. Semua aparat, terutama Presiden dan kepala daerah harus memastikan sistem pendidikan tidak membiarkan anak-anak putus sekolah,” ucapnya.
Selanjutnya, kesadaran orang tua dan para wali anak dalam keseharian. Mereka harus paham anak-anak membutuhkan gizi seimbang dan perlu bermain dan bergerak sehat.





