Surabaya Rujukan Malaysia Belajar Tata Kelola Kota

Surabaya Rujukan Malaysia Belajar Tata Kelola Kota

Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya menerima kunjungan tamu istimewa Menteri Perumahan dan Kerajaan Tempatan Malaysia, anggota delegasi Majlis Legislative Negara Bagian Selangor, Delegasi Dewan Lokal, dan organisasi non pemerintah dari Malaysia.

Rombongan yang berjumlah sekitar 30 orang itu, diterima oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersama jajarannya di Ruang Sidang Wali Kota, Minggu (21/7/2019).

Pada kesempatan itu, Wali Kota Risma langsung menyambut dengan salam pembuka dan paparan materi berbagai keberhasilan yang sudah dicapai oleh Pemkot Surabaya. Salah satunya adalah terkait perumahan dan pemukiman, yakni rumah susun (rusun).

Risma menyampaikan, di Indonesia termasuk Surabaya ini, status tanah kekuatan ada di tangan rakyat bukan pemerintah. Kemudian jika ingin dilakukan penertiban atau pelebaran jalan, maka harus dibantu atau diturunkan surat keputusan (SK) Wali Kota. Hal semacam itu yang dinilai dapat mempercepat atau memperlambat proses pengerjaan.

“Saya harus membuat SK Wali Kota agar tidak ada kesalahpahaman dengan warga. Memang biasanya pelebaran jalan itu prosesnya paling lama ada dipelepasan lahan itu sendiri,” kata dia.

Dijelaskan, di Kota Surabaya juga memiliki perkampungan di tengah kota. Menurutnya, hal ini merupakan bagian dari keindahan kota, asal dijaga dan dilakukan perawatan. Dahulu icon perkampungan memang identik kumuh, kotor, dan tidak nyaman huni. Berbeda dengan sekarang, perkampungan  yang ada di Kota Surabaya semakin tertata dan indah.

“Sebagai contoh kawasan Banyuurip itu sekarang sangat rapi dan bersih. Itu karena partisipasi dari warga dan pengelolaannya memang harus dijaga. Jadi perkampungan ini juga menjadi bagian dari icon kota yang tidak boleh hilang,” jelasnya.

Sementara dalam pengelolaan rusun, Pemkot Surabaya membuat sistem baru. Diman dalam setiap rusun sudah difasilitasi perlengkapan rumah tangga, sehingga warga yang tinggal di situ tidak perlu khawatir. Bahkan, biaya sewanya sangat terjangkau bagi masyarakat dari penghasilan di bawah rata-rata.

“Paling mahal biaya sewa kami hanya Rp 90 ribu bapak-ibu. Kami juga membuat komitmen dengan penduduk yang tinggal di sana kalau ekonominya sudah baik saya minta untuk pindah,” terangnya.